Bioskop dan Radio: Saksi Bisu Ritual Hiburan Zaman Dulu
Redaksi - Tuesday, 28 April 2026 | 08:13 AM


Hiburan Masa Kini: Antara Kebebasan Memilih dan Jebakan Doomscrolling yang Bikin Jompo
Kalau kita tarik mundur waktu sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, ritual hiburan kita itu sebenarnya cukup sederhana dan bisa dibilang "teratur". Mau nonton film bagus? Ya harus ke bioskop atau nunggu jadwal film premiere di televisi swasta setiap malam Minggu. Mau dengerin lagu baru? Ya nungguin radio muter lagu itu atau beli kaset dan CD-nya di toko musik terdekat. Hidup terasa lebih lambat, tapi entah kenapa setiap momen hiburan itu terasa sangat berkesan karena ada usaha yang kita keluarkan untuk mendapatkannya.
Lompat ke hari ini, situasinya sudah berbalik 180 derajat. Sekarang, hiburan ada dalam genggaman tangan, harfiah di ujung jempol kita. Masalahnya bukan lagi tentang "apa yang bisa ditonton", tapi lebih ke arah "bingung mau nonton yang mana". Fenomena choice overload ini nyata adanya. Kita bisa menghabiskan waktu 30 menit cuma buat scrolling katalog Netflix tanpa menonton satu pun film, lalu berakhir dengan rasa capek dan malah mutusin buat tidur. Ironis, bukan? Hiburan yang harusnya bikin rileks malah jadi sumber kecemasan baru karena kita takut salah pilih tontonan atau takut ketinggalan tren alias FOMO.
Evolusi Konten: Dari Layar Lebar ke Vertikal
Pergeseran budaya hiburan yang paling terasa adalah durasi dan formatnya. Dulu, kita sanggup duduk diam selama dua jam untuk menikmati sebuah narasi film yang utuh. Sekarang? Video berdurasi 15 detik di TikTok atau Instagram Reels saja kadang kita skip kalau lima detik pertamanya nggak narik perhatian. Otak kita seolah-olah sudah diprogram untuk terus mencari dopamin instan lewat konten-konten receh yang lewat secepat kilat di layar hp.
Jujur saja, siapa di sini yang nggak pernah terjebak dalam lubang hitam doomscrolling? Niatnya cuma mau cek notifikasi sebentar sebelum tidur, eh tau-tau jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Isinya apa? Mulai dari video orang masak yang estetik, perdebatan netizen di kolom komentar yang nggak ada ujungnya, sampai teori konspirasi kalau bumi itu bentuknya kayak donat. Hiburan model begini memang adiktif banget. Kita nggak perlu mikir berat, cukup geser ke atas, dan otak kita bakal terus-terusan dapet asupan informasi baru yang sebenernya seringkali nggak berguna-berguna amat buat kelangsungan hidup kita.
Gaming yang Kini Bukan Sekadar Main-main
Sektor hiburan lain yang meledak tentu saja dunia gaming. Kalau dulu main game dianggap sebagai kegiatan "buang-buang waktu" yang cuma dilakukan anak kecil atau kaum pengangguran di warnet, sekarang persepsinya sudah jauh berbeda. Gaming sudah jadi gaya hidup, identitas, bahkan profesi yang menjanjikan. Dengan munculnya platform streaming seperti Twitch atau YouTube Gaming, menonton orang lain main game sekarang sudah sama serunya dengan nonton pertandingan bola di stadion.
Ada semacam kedekatan emosional yang terbangun antara penonton dan streamer-nya. Kita bukan cuma nonton cara mereka main, tapi juga dengerin curhatan mereka, ngikutin jokes internalnya, sampai ikut dalam komunitasnya yang solid. Di sini, hiburan berubah fungsi menjadi ruang sosial digital. Terutama buat anak muda sekarang yang mungkin merasa kesepian atau capek dengan dunia nyata yang makin kompetitif, dunia game menawarkan pelarian yang sempurna sekaligus tempat untuk mencari teman baru tanpa harus keluar rumah.
Hiburan Sebagai Bentuk "Self-Care" atau Sekadar Pelarian?
Belakangan ini, muncul istilah "healing" yang sering banget dikaitkan dengan hiburan. Pergi ke konser musik, staycation, atau sekadar nonton maraton drakor di akhir pekan dianggap sebagai cara untuk menyembuhkan mental yang lelah gara-gara kerjaan atau kuliah. Tapi pertanyaannya, apakah itu benar-benar menyembuhkan atau cuma sekadar mematikan rasa sementara?
Menurut observasi saya yang suka banget memperhatikan orang-orang di kafe, banyak dari kita yang "menghibur diri" tapi sebenernya tetap terikat pada layar. Kita pergi ke tempat yang bagus buat hiburan, tapi yang sibuk dilakukan malah ambil foto dan video buat di-upload ke media sosial. Kita butuh validasi bahwa hiburan kita itu "keren". Akhirnya, esensi dari hiburan itu sendiri—yaitu untuk menikmati momen dan beristirahat—jadi hilang karena kita terlalu fokus pada bagaimana cara memamerkannya ke orang lain.
Kadang, hiburan terbaik itu justru datang dari hal-hal yang analog dan minim gangguan sinyal. Membaca buku fisik sambil minum kopi tanpa ada gangguan notifikasi WhatsApp, atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul sama temen lama tanpa ada yang sibuk pegang HP. Tapi ya itu tadi, di zaman yang serba digital ini, melakukan hal-hal "lambat" seperti itu rasanya seperti sebuah kemewahan yang susah banget dikejar.
Kesimpulan: Mencari Titik Tengah
Hiburan itu penting, sangat penting malah. Tanpa hiburan, hidup kita mungkin bakal kaku kayak kanebo kering. Namun, yang perlu kita garis bawahi adalah bagaimana kita mengonsumsi hiburan tersebut. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh algoritma, tapi kitalah yang harus punya kendali atas apa yang kita tonton dan berapa lama kita menghabiskan waktu di sana.
Nggak salah kok kalau kamu suka scrolling TikTok sampai ketawa-ketawa sendiri, atau kalau kamu rela begadang demi tamatin satu season serial di layanan streaming. Tapi ingat juga buat sesekali "log out" dan melihat dunia nyata. Karena hiburan yang paling asli sebenernya adalah koneksi kita dengan manusia lain dan ketenangan pikiran yang nggak bisa didapatkan cuma dari balik layar 6 inci. Jadi, sudahkah kamu merasa terhibur hari ini, atau kamu cuma sekadar sedang mengisi waktu luang agar nggak terasa hampa?
Next News

Cara Cari Jodoh Dulu vs Sekarang Mana yang Lebih Seru
in 4 hours

Pesona Langit Oranye dan Suara Adzan yang Menenangkan
in 3 hours

Kenangan Ngaji Sore: Dari Sarung Kebesaran hingga Ustaz Galak
6 hours ago

Mengapa Suara Penyiar Radio Terasa Lebih Akrab dari Tetangga
6 hours ago

Alasan Kenapa Tubuh Terasa Berat Saat Bangun Pagi dan Solusinya
6 hours ago

Dulu Beli CD, Sekarang Streaming: Revolusi Digital Dunia Musik
6 hours ago

Berdamai dengan Masa Lalu: Cara Menghapus Dendam yang Mengganjal
6 hours ago

Cara Ampuh Atasi Otak Buffering di Pagi Hari dengan Kopi
6 hours ago

Rahasia di Balik Popularitas Basket di Kalangan Remaja
6 hours ago

Capek Disuruh Sabar Terus? Ini Cara Sehat Ekspresikan Marah
7 hours ago





