Selasa, 28 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Cara Cari Jodoh Dulu vs Sekarang Mana yang Lebih Seru

Redaksi - Tuesday, 28 April 2026 | 06:20 PM

Background
Cara Cari Jodoh Dulu vs Sekarang Mana yang Lebih Seru
Cara Cari Jodoh Dulu vs Sekarang Mana yang Lebih Seru (Istimewa /)

Seni Bertahan Hidup di Labirin Pacaran Zaman Sekarang: Antara Sayang, Gengsi, dan Kuota Internet

Kalau kita bicara soal pacaran, rasanya topik ini nggak bakal ada habisnya, mirip kayak antrean promo minuman boba di tanggal muda. Dari zaman kakek-nenek kita yang harus kirim-kiriman surat lewat merpati (oke, mungkin lewat tukang pos), sampai zaman sekarang di mana restu orang tua seringkali kalah penting dibanding algoritma Tinder atau Bumble, pacaran telah mengalami evolusi yang cukup bikin geleng-geleng kepala.

Dulu, ritual pacaran itu sakral banget. Kalau mau ngajak jalan, si cowok harus berani duduk di ruang tamu, keringetan dingin diinterogasi calon mertua, sambil disuguhi teh anget yang rasanya jadi tawar karena saking groginya. Sekarang? Tinggal kirim pesan singkat "Share loc dong, otw nih," dan masalah selesai. Tapi, apakah kemudahan teknologi ini bikin urusan asmara jadi lebih gampang? Oh, tentu tidak, Malih. Justru makin ke sini, urusan hati malah makin ribet kayak benang kusut yang kena tumpahan lem Korea.

Dunia Persilatan "Talking Stage" dan HTS

Selamat datang di era di mana status hubungan itu lebih abu-abu dibanding langit Jakarta pas lagi polusi. Ada istilah yang namanya talking stage atau masa PDKT yang nggak kunjung usai. Di fase ini, kalian sudah saling berkabar tiap pagi, kirim-kiriman pap makan siang, bahkan sudah tahu nama kucing masing-masing, tapi statusnya masih "teman tapi lebih dari teman".

Lalu muncul fenomena HTS atau Hubungan Tanpa Status. Ini adalah kasta tertinggi dari kebingungan asmara. Mau cemburu tapi nggak berhak, mau minta putus tapi emang nggak pernah jadian. Rasanya kayak langganan Netflix tapi nggak bisa milih film—bayar harganya (secara emosional), tapi nggak punya kontrol penuh. Anak muda zaman sekarang sering terjebak di sini karena takut akan komitmen atau terlalu malas buat menghadapi drama "tembak-tembakan" yang dianggap terlalu kekanak-kanakan.

Filter Instagram vs Realita di Meja Makan

Satu hal yang bikin pacaran zaman sekarang makin menantang adalah keberadaan media sosial. Dulu, kalau kita berantem sama pacar, ya sudah, dunianya cuma milik berdua (sama Tuhan). Sekarang, kalau nggak posting foto bareng di Instagram Story pas hari ulang tahun, bisa-bisa dianggap hubungannya lagi retak atau malah sudah putus. Ada beban buat melakukan soft launch atau hard launch pasangan biar dunia tahu kalau kita sudah nggak jomblo lagi.



Masalahnya, seringkali apa yang dipamerkan di feeds nggak sinkron sama kenyataan. Kita bisa melihat pasangan yang fotonya estetik banget di kafe hits, padahal di balik layar mereka baru saja debat kusir soal siapa yang harus bayar tagihan atau gara-gara si cowok telat jemput lima menit. Kita jadi lebih sering memoles citra hubungan daripada memperbaiki kualitas hubungan itu sendiri. Kadang kita lupa kalau pacaran itu soal komunikasi dua arah, bukan soal berapa banyak likes yang didapat dari foto mirror selfie di lift mall.

Red Flag dan Kamus Istilah Gaul Lainnya

Kalau main ke Twitter atau TikTok, kita bakal sering nemu istilah red flag. Sekarang, kriteria pacar idaman bukan cuma soal "baik, jujur, dan tidak sombong" kayak di buku PPKN. Sekarang kita harus waspada sama orang yang love bombing, suka gaslighting, atau yang punya sifat narcissistic. Pengetahuan psikologi populer ini bagus sih buat proteksi diri, tapi kadang bikin kita jadi terlalu paranoid.

Sedikit salah bicara, langsung dicap toxic. Telat bales chat karena ketiduran, dituduh ghosting. Padahal, yang namanya hubungan manusia itu pasti ada gesekannya. Nggak ada hubungan yang bener-bener mulus kayak jalan tol yang baru diaspal. Justru dari konflik-konflik kecil itulah kita belajar buat jadi dewasa. Tapi ya itu, anak zaman sekarang kalau sudah nemu satu celah yang dianggap nggak cocok, lebih milih buat "cabut" dan cari yang baru lewat aplikasi, daripada berusaha memperbaiki apa yang ada. Disposable relationship, istilah kerennya.

Ekonomi Pacaran: Bill Splitting atau Gentlemanship?

Jangan lupakan aspek finansial. Pacaran di kota besar itu mahal, Kawan. Sekali kencan di akhir pekan bisa menghabiskan jatah makan warteg selama seminggu. Di sinilah perdebatan soal bill splitting muncul. Apakah cowok harus selalu bayar? Atau sekarang zamannya 50:50?

Banyak opini yang bertebaran, tapi intinya satu: komunikasi. Kalau lagi bokek, ya bilang saja. Nggak perlu maksain makan di restoran fine dining kalau akhirnya harus puasa Daud di sisa bulan. Pasangan yang baik biasanya bakal ngerti dan malah lebih seneng diajak jajan seblak di pinggir jalan asalkan ngobrolnya nyambung. Toh, kenyamanan itu nggak selalu berbanding lurus dengan harga makanan di buku menu.



Lalu, Kenapa Kita Masih Tetap Mau Pacaran?

Meskipun penuh drama, pengeluaran membengkak, dan risiko patah hati yang bikin galau berbulan-bulan, kenapa kita tetap mencari pasangan? Jawabannya sederhana: manusia itu makhluk sosial yang butuh validasi dan kasih sayang. Ada rasa hangat yang nggak bisa digantikan pas ada orang yang nanyain "Gimana harimu?" atau sekadar jadi sandaran pas kita lagi capek sama kerjaan yang nggak habis-habis.

Pacaran itu kayak sekolah kehidupan. Kita belajar cara kompromi, cara memahami isi kepala orang lain yang beda banget sama kita, dan belajar buat nggak jadi egois. Walaupun kadang akhirnya harus berakhir dengan kata "kita mending temenan aja," setidaknya ada memori dan pelajaran yang bisa dibawa buat hubungan selanjutnya.

Jadi, buat kalian yang lagi pacaran, nikmatin aja prosesnya. Jangan terlalu terobsesi sama standar orang lain di media sosial. Dan buat yang masih jomblo, nggak usah buru-buru. Pacaran itu bukan perlombaan lari maraton, tapi lebih kayak perjalanan santai. Cari yang bener-bener bisa diajak tertawa bareng, bukan cuma yang bisa diajak foto bareng buat konten. Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah seseorang yang tetap ada pas kuota internet habis dan filter kamera nggak lagi digunakan.