Kamis, 20 Agustus 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

82 Desa di Pamekasan Terdampak Kekeringan

Redaksi - Thursday, 20 August 2026 | 05:44 AM

Background
82 Desa di Pamekasan Terdampak Kekeringan
Distribusi air bersih di Desa Pegagan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. (Istimewa/)


salsabilafm.com -  Sebanyak 82 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Pamekasan, Jawa Timur, terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026.


Data tersebut diperoleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan berdasarkan hasil asesmen lapangan dan evaluasi kondisi wilayah yang terdampak kekeringan.




Dari 82 desa tersebut, tercatat sebanyak 281 dusun mengalami dampak kekeringan. Rinciannya, 211 dusun masuk kategori kering langka, sedangkan 70 dusun lainnya masuk kategori kering kritis.


"Berdasarkan data hasil asesmen, total terdapat 281 dusun yang mengalami dampak kekeringan. Dari jumlah itu, sebanyak 211 dusun masuk kategori kering langka, sedangkan 70 dusun lainnya berada dalam kategori kering kritis," kata Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, Kamis (20/8/2026).


Data tersebut menjadi dasar bagi Pemkab Pamekasan dalam menentukan wilayah yang berhak menerima bantuan air bersih selama musim kemarau tahun ini.




Pemerintah daerah sebelumnya telah melakukan asesmen secara langsung untuk mengetahui kondisi kekeringan di masing-masing wilayah. Hasil asesmen kemudian dievaluasi untuk memastikan bantuan diberikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.


Pemkab Pamekasan juga mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat setelah pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026).




Delapan truk tangki air bersih disalurkan sebagai bagian dari langkah awal pemerintah mengantisipasi dampak kekeringan yang mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah.


Penyaluran tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama warga yang tinggal di kawasan dengan keterbatasan sumber air.


Dhofir mengatakan, wilayah yang masuk kategori kering kritis menjadi perhatian serius karena masyarakat berpotensi menghadapi kesulitan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.




"Untuk kategori kering kritis menjadi perhatian serius karena masyarakat di wilayah tersebut berpotensi mengalami kesulitan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari. Sementara itu, wilayah dengan kategori kering langka juga tetap membutuhkan penanganan dan pemantauan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas," paparnya.


Menurut dia, penanganan tidak hanya diperlukan untuk wilayah yang telah masuk kategori kering kritis. Kawasan dengan kondisi kering langka juga perlu mendapatkan pemantauan agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih parah.




Dengan 82 desa dan 281 dusun yang telah teridentifikasi terdampak, kekeringan menjadi salah satu persoalan yang harus mendapatkan perhatian pemerintah daerah selama musim kemarau 2026.


"Oleh karena itu, bantuan air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama musim kering, khususnya di daerah-daerah yang mengalami keterbatasan sumber air," jelasnya.


Selain bantuan air bersih, penanganan kekeringan juga membutuhkan langkah jangka panjang untuk mengurangi dampak yang berulang setiap musim kemarau.




Penguatan sarana penyediaan air, pemanfaatan sumber air alternatif, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan kekeringan menjadi sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi musim kering.


Pemkab Pamekasan selanjutnya menggunakan data hasil asesmen sebagai pijakan dalam proses penetapan penerima bantuan air bersih pada 2026.




"Dari data hasil asesmen ini yang kemudian ditandatangani oleh Bupati Pamekasan, selanjutnya akan menjadi pijakan dalam proses penetapan penerima bantuan air bersih Kabupaten Pamekasan Tahun 2026," pungkasnya. (*)