WHO: 1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Redaksi - Tuesday, 30 June 2026 | 12:25 PM


salsabilafm.com - Gelombang panas ekstrem sedang menghantui Eropa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 1.300 kematian terkait gelombang panas ekstrem di Eropa sejak 21 Juni.
Puluhan juta orang di Eropa harus menghadapi suhu ekstrem sepanjang akhir pekan, saat gelombang panas mematikan bergerak ke arah timur kawasan tersebut. Sejumlah negara melaporkan bertambahnya jumlah korban jiwa akibat cuaca panas ekstrem, dengan layanan kesehatan berisiko kewalahan menangani pasien.
Senin (29/6/2026) pagi, otoritas kesehatan Prancis mengungkapkan adanya sekitar 1.000 kematian tambahan di luar perkiraan normal di negara tersebut, yang tercatat sejak Rabu (24/6/2026) waktu setempat.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir AFP, Senin (29/6/2026), mengatakan, lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni akibat suhu tinggi di Eropa.
"Stres akibat suhu panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap, dan bangunan rumah, tempat kerja, serta sekolah-sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu seperti ini," kata Tedros dalam pernyataan via media sosial X.
Menurut perkiraan AFP, setidaknya 191 juta orang di berbagai negara Eropa diperkirakan akan merasakan suhu udara minimum 35 derajat Celsius pada Minggu (28/6/2026), dengan suhu panas yang sangat ekstrem diprediksi menyelimuti Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.
Sementara itu, berdasarkan analisis yang mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Jerman serta proyeksi populasi tahun 2025 dari Joint Research Centre yang dihimpun LSM Austria, Klimadashboard, total sebanyak 381 juta orang di Eropa (tidak termasuk Turki) akan dilanda suhu di atas 30 derajat Celsius.
Tedros memperingatkan bahwa jutaan orang di seluruh benua Eropa saat ini hidup di tengah suhu panas ekstrem; ratusan orang meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik kewalahan menghadapi beban berlebih.
"Dipicu oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas 'sekali dalam satu generasi' kini muncul hampir setiap tahun. Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di Bumi, dengan laju peningkatan suhu mencapai dua kali lipat dari rata-rata global," sebutnya.
Ditambahkan oleh Tedros, WHO bekerja sama dengan negara-negara anggota dan para mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan akibat suhu panas ekstrem dengan berfokus pada kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat.
Dia menyerukan negara-negara Eropa untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait suhu panas sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim. (*)
Next News

Maulid Nabi 2026 Ditetapkan Sebagai Libur Nasional, Cek Jadwal Lengkapnya
in 2 hours

82 Desa di Pamekasan Terdampak Kekeringan, Pemkab Dropping Air Bersih
in 2 hours

Ratusan Relawan Madura Akan Berangkat ke Jakarta Bela Program Prabowo
a day ago

Lapak Mewarnai di Alun-Alun Trunojoyo Sampang Jadi Ruang Kreativitas Anak
a day ago

Kemarau Ekstrem Jadi Berkah, Harga Tembakau Sampang Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
a day ago

Pemkab Sampang Minta KDKMP Dibangun di Lokasi Strategis dan Punya Akses Ekonomi
2 days ago

12 Kecamatan di Sampang Kering Kritis, Anggaran Rp75 Juta Hanya Cukup 1-2 Tangki Air per Desa
2 days ago

Kecelakaan Beruntun di Bangkalan, Pemotor Meninggal di Lokasi
2 days ago

Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang
3 days ago

BMKG Catat 4.256 Gempa Susulan di NTT, Terbesar Magnitudo 6,2
3 days ago

