Selasa, 17 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Tips Tetap Tenang Meski Hari Terasa Berat dan Menyebalkan

Redaksi - Tuesday, 17 March 2026 | 05:22 AM

Background
Tips Tetap Tenang Meski Hari Terasa Berat dan Menyebalkan
Ilustrasi marah (Istimewa /)

Seni Mengelola Marah: Biar Nggak Dikit-Dikit Ngegas dan Tetap Waras

Bayangkan situasi ini: Kamu baru saja pulang kerja setelah seharian kena semprot bos, terjebak macet dua jam di bawah terik matahari Jakarta yang nggak ada akhlak, lalu sesampainya di rumah, pesanan makanan online kamu datang dalam kondisi tumpah atau salah menu. Rasanya gimana? Pengen teriak? Pengen banting HP? Atau pengen nangis di pojokan sambil nyalahin takdir? Tenang, kamu nggak sendirian. Itu namanya marah, sebuah emosi yang seringkali dianggap sebagai "penjahat" dalam hidup kita, padahal sebenarnya ia hanyalah tamu yang butuh tempat duduk sebentar.

Marah itu manusiawi banget. Bahkan, kalau kamu nggak pernah marah sama sekali, mungkin kamu perlu cek ke dokter, jangan-jangan ada kabel yang putus di sistem sarafmu. Tapi masalahnya, di zaman yang serba cepat ini, banyak orang yang punya "sumbu pendek". Dikit-dikit emosi, dikit-dikit viral karena maki-maki orang di jalanan, atau minimal bikin status sindiran di Instagram Story pakai font kecil banget biar orang penasaran. Nah, mari kita bedah fenomena marah ini dengan kepala dingin—meski topiknya lagi panas.

Spektrum Marah: Dari yang Diem-Diem Menghanyutkan Sampai yang Meledak

Marah itu nggak cuma soal teriak-teriak kayak di sinetron. Ada banyak ragamnya. Ada tipe "The Exploder", tipe orang yang kalau marah kayak gunung berapi meletus. Semua penghuni kebun binatang diabsen, barang-barang melayang, dan semua orang di radius sepuluh meter kena getahnya. Capek? Pasti. Tapi buat mereka, ini adalah cara tercepat buat ngelepasin beban.

Lalu ada tipe yang lebih "senyap" tapi mematikan, yaitu "The Silent Treatment" alias pelaku pasif-agresif. Ini biasanya sering terjadi di hubungan asmara. Ditanya "Kenapa?" jawabnya "Nggak apa-apa", tapi mukanya ditekuk sampai kayak cucian belum disetrika, pintu dibanting pelan, dan chat cuma dibalas pakai titik. Marah jenis ini sebenarnya lebih melelahkan secara mental, baik buat yang melakukan maupun yang jadi sasaran. Kita kayak disuruh main tebak-tebakan tanpa petunjuk sama sekali.

Ada juga tipe "The Grudger" atau si pendendam. Mereka nggak marah sekarang, tapi mereka mencatat kesalahanmu di "buku dosa" mental mereka. Tiga tahun kemudian, pas lagi berantem soal hal sepele, mereka bakal ngungkit kejadian tahun 2021 yang bahkan kamu udah lupa pernah melakukannya. Wah, kalau yang ini sih levelnya udah butuh bantuan profesional atau minimal sesi curhat yang sangat panjang.



Kenapa Kita Gampang Banget "Ngegas" di Zaman Sekarang?

Pernah mikir nggak, kenapa orang sekarang kayaknya gampang banget tersulut emosinya? Kalau kata anak zaman sekarang, mungkin karena kita kurang "healing". Tapi kalau ditarik lebih dalam, tekanan hidup kita memang lagi gila-gilaan. Dari mulai tuntutan kerjaan yang minta dikerjain kemarin (padahal baru dikasih hari ini), sampai standar hidup di media sosial yang bikin kita merasa "kurang" terus.

Kelelahan kronis atau burnout adalah bahan bakar paling oke buat kemarahan. Ketika otak kita udah capek, kemampuan kita buat berpikir logis (prefrontal cortex) itu bakal kalah sama bagian otak primitif kita (amygdala) yang kerjaannya cuma lawan atau lari. Makanya, hal sepele kayak disalip motor atau dikomentarin sedikit sama mertua bisa berasa kayak serangan personal yang harus dibalas dengan serangan balik yang lebih dahsyat.

Belum lagi faktor lingkungan. Tinggal di kota besar dengan polusi udara, suara bising, dan kepadatan penduduk itu secara biologis bikin level kortisol (hormon stres) kita tinggi. Jadi, jangan heran kalau di lampu merah banyak orang yang klakson-klakson padahal lampunya baru hijau 0,001 detik. Itu bukan karena mereka buru-buru mau nyelamatin dunia, tapi emang "sumbu" mereka udah mepet banget sama api.

Marah di Media Sosial: Lapak Paling Berisik

Nah, ini dia fenomena unik abad ke-21: marah-marah di kolom komentar. Media sosial memberikan kita tameng bernama anonimitas atau jarak fisik. Kita jadi berani ngomong kasar ke orang yang bahkan nggak kita kenal cuma gara-gara beda selera musik atau beda pilihan politik. Marah di internet itu kayak adiksi. Ada kepuasan tersendiri saat kita ngerasa "paling benar" dan dapet banyak likes dari orang yang setuju sama kemarahan kita.

Tapi jujur deh, pernah nggak sih kamu merasa benar-benar tenang setelah adu argumen sama orang asing di Twitter sampai jam 2 pagi? Yang ada malah jantung berdebar, tangan gemetar, dan tidur jadi nggak nyenyak. Kita sering lupa kalau di balik layar itu ada manusia beneran yang punya perasaan. Marah di sosmed itu seringkali cuma membuang energi secara cuma-cuma demi validasi yang nggak seberapa.



Dampaknya Buat Badan (dan Dompet)

Marah itu mahal harganya. Secara kesehatan, sering marah-marah itu bikin tekanan darah naik, risiko serangan jantung meningkat, dan sistem imun jadi drop. Tubuh kita itu dirancang buat marah dalam kondisi darurat (misal, pas ketemu macan di hutan), bukan buat marah tiap kali dapet email dari kantor. Bayangkan mesin mobil yang digas pol tiap saat tanpa pernah ganti oli, ya pasti bakal rontok juga ujung-ujungnya.

Selain kesehatan, marah juga bisa bikin dompet tipis. Berapa banyak barang yang rusak gara-gara kita banting pas lagi emosi? Berapa banyak hubungan baik—yang mungkin bisa jadi peluang bisnis atau karier—hancur cuma gara-gara satu kalimat kasar yang kita ucapkan tanpa mikir? Belum lagi kalau kemarahan kita berujung ke ranah hukum. Niatnya pengen puas ngomel, eh malah berakhir minta maaf sambil pakai baju oranye. Rugi bandar, kan?

Menjinakkan Si Naga di Dalam Diri

Terus gimana dong? Masa nggak boleh marah? Ya boleh, tapi harus tahu caranya. Menekan amarah itu juga nggak sehat, karena amarah yang dipendam bakal jadi bom waktu. Kuncinya adalah pengelolaan, bukan penghilangan.

  • Ambil Jeda 10 Detik: Kedengarannya klise, tapi ini manjur banget. Pas lagi emosi memuncak, tarik napas dalam-dalam. Kasih waktu buat otak logis kamu buat ambil alih kendali lagi.
  • Identifikasi Pemicunya: Kamu marah karena makanan salah, atau sebenarnya kamu lagi stres karena tagihan belum bayar? Seringkali kita marah sama hal A, padahal masalahnya ada di hal B.
  • Olahraga: Salurkan energi kemarahan itu ke fisik. Lari, tinju samsak, atau sekadar jalan kaki keliling kompleks. Biar hormon endorfin keluar dan menetralisir rasa kesel itu.
  • Bicara, Jangan Teriak: Sampaikan apa yang bikin kamu marah dengan kalimat "Aku merasa... karena...". Ini jauh lebih efektif daripada bilang "Kamu tuh selalu aja...".

Pada akhirnya, marah adalah bagian dari spektrum emosi kita sebagai manusia. Nggak perlu merasa jadi orang jahat kalau lagi marah. Yang penting, jangan sampai kemarahan itu yang pegang setir kehidupan kita. Jadilah tuan atas emosimu sendiri, bukan budaknya. Karena hidup terlalu singkat kalau cuma dihabiskan buat maki-maki keadaan. Yuk, tarik napas lagi, dan ingat: nggak semua hal di dunia ini layak buat bikin kamu darah tinggi.