Share Loc atau Share Trust? Dilema Cinta Generasi Digital
Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM


Cinta di Era Algoritma: Saat 'Read' Lebih Menyakitkan daripada Diputusin
Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong di kafe bareng pasangan, tapi yang diajak ngobrol malah layar masing-masing? Suasananya syahdu, kopi sudah dipesan, lagu indie melatarbelakangi pertemuan, tapi jempol kalian sibuk scrolling TikTok atau membalas chat di grup kantor yang nggak ada habisnya. Selamat, kamu sedang terjebak dalam fenomena klasik manusia modern: dekat secara fisik, tapi jauh secara frekuensi sinyal.
Dulu, orang tua kita kalau mau PDKT harus lewat surat-suratan yang sampainya bisa seminggu sekali, atau minimal telepon rumah yang kabelnya ditarik-tarik sampai ke kamar biar nggak kedengeran bapak. Sekarang? Segalanya ada di genggaman. Mau tahu gebetan lagi apa, tinggal cek Instagram Story. Mau tahu dia lagi sama siapa, tinggal lihat tag-an temannya. Teknologi memang bikin jarak jadi nggak relevan, tapi di saat yang sama, ia juga bikin kedekatan jadi terasa hambar kalau nggak dikelola dengan benar.
Paradoks Pilihan di Aplikasi Kencan
Mari kita bicara soal aplikasi kencan semacam Tinder atau Bumble. Di satu sisi, aplikasi ini adalah pahlawan bagi kaum introvert yang malas bersosialisasi di dunia nyata. Kita bisa memilih calon pasangan layaknya memilih menu di layanan pesan antar makanan. Geser kanan kalau cakep, geser kiri kalau fotonya cuma gambar pemandangan atau kutipan motivasi yang nggak nyambung.
Tapi, masalahnya muncul di sini: paradox of choice. Karena pilihannya terlalu banyak, kita jadi gampang merasa "ah, mungkin ada yang lebih oke di swipe berikutnya." Akhirnya, kita nggak pernah benar-benar menghargai koneksi yang ada. Hubungan jadi terasa seperti transaksi kilat. Baru chat tiga hari, nggak dibalas sejam, langsung merasa di-ghosting. Kita jadi kurang sabar dalam membangun fondasi emosi karena teknologi membiasakan kita untuk mendapatkan segalanya secara instan.
Belum lagi soal validasi. Banyak dari kita yang menjalin hubungan cuma buat dipamerin ke media sosial. Kalau nggak posting foto bareng di Instagram dengan caption puitis bin cringe, rasanya hubungan itu belum sah di mata publik. Kita sibuk mengurasi citra bahagia di layar, padahal pas lagi makan bareng, suasana dinginnya melebihi AC mal gara-gara gengsi mau minta maaf duluan setelah berantem semalam.
Anatomi Kegalauan Lewat Centang Biru
Teknologi juga menciptakan jenis kecemasan baru yang nggak pernah dirasakan kakek-nenek kita. Namanya "Anxiety Centang Biru". Bayangkan, kamu sudah ngetik panjang lebar, pakai emoji hati segala, tapi cuma di-read alias dibaca doang. Menunggu balasan chat di zaman sekarang itu lebih menyiksa daripada menunggu gajian di akhir bulan. Pikiran langsung melayang ke mana-mana: "Dia marah ya?", "Apa aku salah ngomong?", atau yang paling tragis, "Dia lagi asyik chat sama yang lain ya?"
Padahal, bisa jadi dia cuma lagi sibuk nyuci piring atau ketiduran. Tapi teknologi memberi kita ekspektasi bahwa semua orang harus tersedia 24/7. Kita lupa kalau setiap orang punya hak untuk tidak memegang ponsel. Fitur 'last seen' dan 'typing...' di WhatsApp itu sebenarnya adalah fitur yang paling banyak bikin orang bertengkar tanpa alasan yang jelas. Kita jadi pengintai digital bagi pasangan sendiri, yang kalau keterusan, bisa jadi racun atau toxic dalam hubungan.
LDR: Diselamatkan Video Call, Disiksa 'Share Loc'
Bagi pejuang Long Distance Relationship (LDR), teknologi adalah juru selamat. Tanpa FaceTime atau Zoom, mungkin angka putus cinta bakal melonjak drastis. Kita bisa melihat wajah pasangan, mendengar suaranya, bahkan melakukan 'virtual date' nonton Netflix bareng meski terpaut ribuan kilometer. Teknologi memangkas kerinduan dengan cara yang ajaib.
Tapi, mata pisau teknologi itu selalu dua. Fitur share location (share loc) yang tujuannya buat keamanan, sering disalahgunakan jadi alat kontrol. "Kenapa kamu di situ? Katanya tadi di rumah?" Pertanyaan-pertanyaan interogatif semacam ini muncul karena kita merasa punya hak untuk memantau pergerakan pasangan setiap detik. Kepercayaan yang seharusnya jadi fondasi utama malah digantikan oleh koordinasi GPS. Padahal, hubungan yang sehat butuh ruang untuk bernapas, bukan pengawasan ala intelijen negara.
Kembali ke Dasar: Hape Ditaruh, Mata Bertemu
Jadi, apakah teknologi itu musuh relasi? Ya nggak juga. Masalahnya bukan di alatnya, tapi di penggunanya. Kita perlu belajar lagi cara menaruh ponsel saat sedang bersama orang yang kita sayangi. Ada istilah 'Phubbing' (phone snubbing), yaitu tindakan mengabaikan lawan bicara demi asyik sendiri dengan ponsel. Ini adalah cara paling efektif untuk merusak kemesraan tanpa perlu kata-kata kasar.
Coba deh, sesekali bikin aturan 'no gadget' pas lagi dinner atau deep talk. Rasakan betapa berbedanya kualitas obrolan saat mata kita benar-benar menatap mata lawan bicara, bukan menatap pantulan layar yang penuh sidik jari. Teknologi seharusnya cuma jadi jembatan untuk bertemu, bukan tembok yang memisahkan saat sudah bertemu.
Pada akhirnya, algoritma secanggih apa pun nggak akan bisa menggantikan hangatnya sebuah pelukan atau tawa lepas yang meledak karena lelucon receh di dunia nyata. Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun 'engagement' di media sosial, tapi lupa membangun 'engagement' yang sesungguhnya dengan manusia di sebelah kita. Hidup ini singkat, jangan habiskan hanya untuk scrolling saat ada cinta yang nyata di depan mata.
Ingat, status 'Relationship' di Facebook itu nggak ada artinya kalau di dunia nyata kalian cuma dua orang asing yang kebetulan berbagi meja dan koneksi Wi-Fi yang sama.
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
4 hours ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
4 hours ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
4 hours ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
4 hours ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
4 hours ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
4 hours ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
2 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
3 days ago

Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
3 days ago





