Sering Merasa Kosong Tanpa Sebab? Yuk Simak Cara Mengatasinya
Redaksi - Monday, 13 April 2026 | 11:25 PM


Menambal Lubang di Hati: Antara Self-Healing dan Membeli Barang yang Nggak Kita Butuhin
Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di cafe yang estetik, kopi susu gula aren di tangan, temen-temen lagi ketawa ngakak bahas gosip terbaru, tapi tiba-tiba perasaanmu kayak "kosong"? Kayak ada satu bagian di dalam dada yang rasanya kopong, hampa, dan nggak tersentuh sama sekali oleh keriuhan di depan mata. Kalau iya, selamat, kamu baru saja disapa oleh apa yang sering kita sebut sebagai "lubang di hati".
Lubang ini bukan soal medis, bukan juga soal bocor jantung yang butuh meja operasi. Ini lebih ke arah rasa haus eksistensial yang nggak habis-habis. Fenomena ini sebenernya makin sering muncul di generasi kita yang katanya serba instan tapi ternyata paling sering merasa sendirian. Kita punya ribuan pengikut di Instagram, tapi pas lagi sedih, bingung mau kirim pesan ke siapa. Kita punya akses ke jutaan lagu di Spotify, tapi nggak ada satu pun lirik yang bener-bener bisa mewakili rasa sesak yang aneh itu.
Masalahnya, banyak dari kita yang salah kaprah dalam mencoba menambal lubang tersebut. Kita sering mikir kalau lubang itu bisa ditutup dengan hal-hal eksternal. Jujurly, siapa sih yang nggak pernah "check out" keranjang Shopee sampai limit kartu kredit menjerit cuma gara-gara ngerasa hampa? Kita beli baju baru, gadget terbaru, atau skin skincare yang harganya bikin dompet menangis, dengan harapan rasa hampa itu bakal ilang pas paketnya sampai. Tapi kenyataannya? Senengnya cuma bertahan pas proses unboxing doang. Begitu plastiknya dibuang, lubangnya balik lagi, bahkan mungkin makin gede karena ditambah rasa nyesel liat saldo ATM.
Belum lagi soal fenomena healing-healing-an yang makin ke sini makin nggak masuk akal. Sekarang dikit-dikit healing, stres dikit langsung kabur ke Bali atau naik gunung. Padahal, kalau masalahnya ada di dalam hati, mau kita terbang sampai ke ujung dunia pun, lubang itu bakal ikut masuk ke dalam koper. Kita cuma memindahkan rasa hampa itu dari kamar kost ke pinggir pantai. Efeknya? Kita cuma capek di fisik, tapi batin tetep kerontang.
Kenapa Lubang Itu Bisa Ada?
Kalau kita mau jujur dan sedikit reflektif, lubang di hati ini seringkali muncul karena kita terlalu sibuk membandingkan "behind the scenes" hidup kita dengan "highlight reel" hidup orang lain. Setiap kali kita scroll TikTok atau Instagram, kita disuapi standar kebahagiaan yang nggak masuk akal. Liat temen seumuran udah punya rumah, kita merasa gagal. Liat temen kantor nikah, kita merasa kesepian. Perbandingan ini perlahan-lahan menggerogoti rasa cukup dalam diri kita, lalu meninggalkan lubang yang makin lama makin lebar.
Selain itu, kita hidup di zaman yang menuntut kita untuk selalu produktif. Kalau nggak produktif, kita merasa nggak berguna. Padahal, manusia itu butuh waktu untuk sekadar "diam". Kita terlalu takut sama kesunyian karena di dalam sunyi itulah suara hati kita yang paling jujur mulai kedengeran. Dan sayangnya, suara hati itu seringkali brings up hal-hal yang selama ini kita pendam: rasa kecewa, trauma masa kecil, atau ketakutan akan masa depan.
Kadang, lubang itu juga tercipta karena kita terlalu banyak berekspektasi pada orang lain. Kita naruh kunci kebahagiaan kita di kantong orang lain. Pas orang itu pergi atau nggak sesuai harapan, kita merasa hancur sehancur-hancurnya. Kita lupa kalau tanggung jawab untuk merasa "penuh" itu ada di tangan kita sendiri, bukan di pacar, orang tua, apalagi validasi dari netizen.
Belajar Hidup Bareng "Lubang" Itu
Terus, gimana caranya biar lubang ini nggak bikin kita gila? Mungkin langkah pertamanya adalah berhenti mencoba menambalnya secara paksa. Ada sebuah filosofi menarik yang bilang kalau lubang itu mungkin emang nggak perlu ditutup, tapi perlu kita kenali. Kadang, lubang di hati itu adalah ruang kosong yang sengaja disediakan alam semesta biar kita bisa belajar tentang empati, tentang seni menerima kekurangan, dan tentang cara mencintai diri sendiri tanpa syarat.
Coba deh, sesekali kalau rasa hampa itu datang, jangan langsung lari ke aplikasi belanja atau aplikasi kencan. Coba duduk diem, rasain hampanya, dan tanya ke diri sendiri: "Gue sebenernya butuh apa sih? Apa gue butuh pengakuan? Apa gue butuh istirahat?" Seringkali, yang kita butuhkan bukan barang baru, tapi pengakuan dari diri sendiri kalau kita udah berjuang cukup keras hari ini.
Menambal lubang di hati itu butuh waktu. Nggak bisa instan kayak masak mi goreng. Mungkin caranya adalah dengan mulai menekuni hobi lama yang dulu bikin kita seneng, atau sekadar ngobrol deep talk sama temen yang bener-bener peduli tanpa perlu posting di Story. Hal-hal sederhana yang "nggak kelihatan" di media sosial justru seringkali jadi tambalan yang paling awet buat lubang di hati kita.
Pada akhirnya, punya lubang di hati itu manusiawi banget. Itu tanda kalau kamu masih hidup, masih punya perasaan, dan masih punya ruang buat tumbuh. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Hidup ini emang absurd, penuh ketidakpastian, dan kadang emang kerasa kosong. Tapi hey, bukankah justru di dalam kekosongan itu kita punya kesempatan buat ngisi dengan hal-hal yang bener-bener berarti? Jadi, besok-besok kalau rasa hampa itu datang lagi, peluk aja. Ajak dia ngopi, tapi kali ini nggak usah diposting ke Instagram. Cukup kamu dan hatimu aja yang tahu.
Next News

Sering Emosian? Cek Dulu Kecukupan Air Putih dalam Tubuh
in 4 hours

Kopi Susu: Minuman yang Menyatukan Berbagai Latar Belakang
in 4 hours

Bosan Rumah Berantakan? Ini Rahasia Hunian Estetik ala Selebgram
in 4 hours

TikTok: Hubungan Toxic yang Bikin Kita Susah Berhenti Scrolling
in 4 hours

Rahasia Musik Pop Bisa Bikin Kamu Kecanduan Dengar
in 3 hours

Kacang Kulit: Camilan Wajib Pendamping Kopi dan Gosip di Warkop
in 3 hours

Kenapa Wortel Bisa Bikin Mata Jernih? Cek Fakta dan Sejarahnya
in 3 hours

Fungsi Laptop yang Kini Lebih dari Sekadar Alat Elektronik
in 3 hours

5 Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital Agar Tetap Jernih
in 3 hours

Kopi dan Gaya Hidup: Syarat Wajib Jadi Manusia Produktif
in 3 hours





