Senin, 13 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Sering Emosian? Cek Dulu Kecukupan Air Putih dalam Tubuh

Redaksi - Monday, 13 April 2026 | 11:33 PM

Background
Sering Emosian? Cek Dulu Kecukupan Air Putih dalam Tubuh
Sering Emosian? Cek Dulu Kecukupan Air Putih dalam Tubuh (Istimewa /)

Dewa Penyelamat Bernama Air Putih: Si Paling Bening yang Sering Kita Sepelekan

Pernah nggak sih kalian ngerasa lemas luar biasa, pusing nggak jelas, atau mendadak emosian padahal nggak ada yang mancing? Sebelum kalian menyalahkan zodiak atau mikir kalau ini adalah tanda-tanda butuh liburan ke Bali, coba cek dulu satu hal sederhana: tadi sudah minum air putih belum? Kedengarannya sepele banget, ya? Tapi jujur saja, di tengah gempuran es kopi susu gula aren, boba yang kenyal-kenyal lucu, sampai minuman kaleng warna-warni, air putih sering banget cuma jadi "pilihan terakhir" atau bahkan figuran dalam skenario harian kita.

Padahal, kalau kita mau jujur-jujuran, air putih itu adalah kasta tertinggi dalam dunia minuman. Dia adalah "The Humble King". Nggak butuh branding mewah, nggak butuh kemasan estetik (meskipun sekarang botol minumnya yang justru jadi ajang pamer status sosial), tapi manfaatnya nggak ada yang bisa ngalahin. Tanpa air putih, badan kita itu ibarat tanaman yang lupa disiram di tengah musim kemarau Jakarta; layu, kering, dan gampang patah hati—eh, maksudnya gampang sakit.

Kenapa Kita Sering Lupa Sama Si Bening Ini?

Zaman sekarang, godaan itu nyata banget. Begitu haus, yang terbayang di kepala adalah sensasi dingin soda yang menggelitik tenggorokan atau manisnya matcha latte yang bikin mood naik. Air putih? Ah, rasanya flat, hambar, nggak ada tantangannya. Banyak dari kita yang merasa kalau minum air putih itu cuma sekadar buat membasahi kerongkongan setelah makan nasi padang biar nggak keselek. Padahal, urusannya jauh lebih dalam dari itu.

Ada semacam fenomena unik di kalangan anak muda sekarang. Kita sanggup beli kopi seharga lima puluh ribu demi mengejar produktivitas, tapi malas banget buat ngisi ulang botol minum dari dispenser kantor yang gratisan. Kita lebih rela ginjal kita "kerja rodi" nyaring kafein dan gula setiap hari daripada ngasih dia liburan sejenak dengan aliran air murni yang menyegarkan. Istilahnya, kita sering lupa kalau komponen terbesar dari tubuh manusia itu adalah air. Jadi kalau kita kurang minum, ya wajar saja kalau mesin di dalam tubuh kita mulai "ngadat".

Skincare Paling Murah yang Pernah Ada

Kalau kalian rajin mantengin konten beauty influencer, pasti sering dengar saran tentang hidrasi. Mau pakai serum seharga jutaan atau moisturizer impor dari Korea, hasilnya nggak bakal maksimal kalau kulit kalian dehidrasi dari dalam. Air putih itu adalah kunci dari apa yang sering disebut orang-orang sebagai "glow up".



Waktu kita cukup minum, sel-sel kulit kita jadi terisi penuh, bikin wajah kelihatan lebih segar dan nggak kusam. Coba deh eksperimen kecil-kecilan: minum dua liter air sehari secara rutin selama seminggu. Perhatikan bedanya. Kantung mata yang tadinya kayak mata panda biasanya bakal sedikit memudar, dan jerawat-jerawat bandel jadi lebih kalem. Ini bukan magic, ini cuma biologi dasar. Air membantu membuang racun (detoks) dari dalam tubuh melalui keringat dan urin. Jadi, daripada habis uang buat perawatan yang aneh-aneh, mending mulai investasi di air putih dulu, deh.

Tumbler Mewah dan Budaya Hidrasi

Menariknya, belakangan ini ada tren yang cukup positif. Air putih mulai naik kelas bukan karena rasanya berubah jadi rasa stroberi, tapi karena wadahnya. Fenomena tumbler mahal seharga cicilan motor yang dibawa ke mana-mana itu, secara nggak langsung, bikin orang jadi lebih rajin minum. Ada semacam gengsi tersendiri kalau kita bawa botol minum berukuran satu liter dan berhasil menghabiskannya sebelum jam makan siang.

Meskipun kadang kesannya jadi kayak ajang pamer, tapi saya rasa ini adalah salah satu "flexing" yang paling bermanfaat. Setidaknya, tren ini menyelamatkan kita dari dehidrasi massal. Membawa botol minum sendiri juga bikin kita jadi lebih sadar lingkungan. Bayangkan berapa banyak botol plastik sekali pakai yang bisa kita kurangi cuma dengan setia membawa botol minum sendiri. Jadi, mau mereknya apa pun, yang penting isinya air putih, bukan cuma buat pajangan di meja kerja doang.

Jangan Tunggu Sampai Haus

Salah satu kesalahan fatal yang sering kita lakukan adalah baru minum saat merasa haus. Secara medis, kalau tenggorokan sudah terasa kering dan haus banget, itu artinya tubuh kita sudah mulai mengalami dehidrasi ringan. Tubuh itu sudah ngasih sinyal darurat. Harusnya, kita minum sebelum sinyal itu muncul.

Banyak yang beralasan, "Duh, kalau banyak minum jadi sering ke kamar mandi, repot!" Ya memang sih, itu konsekuensinya. Tapi mending sering bolak-balik ke toilet daripada harus bolak-balik ke rumah sakit karena masalah batu ginjal atau infeksi saluran kemih, kan? Anggap saja jalan kaki ke toilet itu sebagai olahraga tipis-tipis biar nggak kelamaan duduk di depan laptop.



Penutup: Air Putih adalah Koentji

Pada akhirnya, air putih adalah pengingat bahwa hal-hal paling berharga dalam hidup seringkali adalah hal-hal yang paling sederhana. Dia nggak perlu rasa yang kuat untuk bisa menguatkan kita. Dia nggak perlu warna yang mencolok untuk bisa mencerahkan hari kita. Di tengah dunia yang makin kompleks dan berisik, kembali ke sesuatu yang murni seperti air putih adalah sebuah bentuk self-care yang paling hakiki.

Jadi, buat kalian yang lagi baca tulisan ini, coba deh berhenti sejenak. Ambil gelas atau tumbler kalian, lalu minum. Rasakan sensasi segarnya mengalir ke tenggorokan. Tubuh kalian bakal berterima kasih banget. Ingat, jangan cuma haus validasi di media sosial, tapi hauslah akan kesehatan dengan rutin minum air putih. Cheers buat hidup yang lebih sehat dan terhidrasi!