Program Sumur Bor Turunkan Status Kekeringan Desa Terdampak di Sumenep
Redaksi - Sunday, 05 July 2026 | 06:08 AM


salsabilafm.com - Program pengeboran sumur yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama sejumlah instansi mulai memberikan dampak terhadap penanganan kekeringan. Beberapa desa yang sebelumnya masuk kategori kering kritis kini mengalami penurunan status menjadi kering langka setelah memperoleh sumber air baru.
Sekretaris BPBD Kabupaten Sumenep, Abd. Kadir, mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara BPBD, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), serta Komando Distrik Militer (Kodim) yang terus memperluas pembangunan sumur bor di wilayah-wilayah yang selama ini mengalami krisis air bersih.
"Beberapa desa yang sebelumnya berstatus kering kritis kini sudah turun menjadi kering langka setelah adanya pengeboran sumur. Upaya ini terus kami lakukan agar masyarakat memiliki akses air yang lebih baik dan tidak selalu bergantung pada bantuan air bersih," kata Abd. Kadir, Sabtu (4/7/2026).
Dia menjelaskan, pembangunan sumur bor menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam mengurangi dampak kekeringan, terutama di desa-desa yang setiap tahun mengalami kesulitan memperoleh air saat musim kemarau.
Meski demikian, BPBD masih mencatat terdapat 76 desa di 19 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun 2026. Data tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Penetapan Lokasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026.
Dalam keputusan itu, wilayah rawan dibagi ke dalam empat kategori, yakni kering kritis, kering langka, kering langka terbatas, dan kering langka kritis.
Sebaran wilayah rawan kekeringan meliputi sejumlah kecamatan di daratan, seperti Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, dan Saronggi. Sementara di wilayah kepulauan, daerah yang masuk pemetaan antara lain Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, dan Sapeken.
BPBD juga telah menyiapkan langkah antisipasi berupa distribusi air bersih bagi desa-desa yang masuk kategori kering kritis. Abd. Kadir menyebut, berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan air bersih biasanya mulai meningkat sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung.
"Kami sudah memetakan seluruh wilayah terdampak. Saat kondisi mulai memasuki puncak kemarau, desa dengan status kering kritis akan menjadi prioritas utama penyaluran bantuan air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ujarnya.
Selain penyaluran air bersih, BPBD memastikan upaya pembangunan sumber air baru akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air masyarakat di wilayah rawan kekeringan. (*)
Next News

Maulid Nabi 2026 Ditetapkan Sebagai Libur Nasional, Cek Jadwal Lengkapnya
2 hours ago

82 Desa di Pamekasan Terdampak Kekeringan, Pemkab Dropping Air Bersih
2 hours ago

Ratusan Relawan Madura Akan Berangkat ke Jakarta Bela Program Prabowo
a day ago

Lapak Mewarnai di Alun-Alun Trunojoyo Sampang Jadi Ruang Kreativitas Anak
a day ago

Kemarau Ekstrem Jadi Berkah, Harga Tembakau Sampang Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
a day ago

Pemkab Sampang Minta KDKMP Dibangun di Lokasi Strategis dan Punya Akses Ekonomi
2 days ago

12 Kecamatan di Sampang Kering Kritis, Anggaran Rp75 Juta Hanya Cukup 1-2 Tangki Air per Desa
2 days ago

Kecelakaan Beruntun di Bangkalan, Pemotor Meninggal di Lokasi
2 days ago

Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang
3 days ago

BMKG Catat 4.256 Gempa Susulan di NTT, Terbesar Magnitudo 6,2
3 days ago

