Overthinking: Musuh Diam-Diam yang Menguras Energi Pikiran
Redaksi - Tuesday, 14 April 2026 | 09:00 AM


Overthinking: Musuh Diam-Diam yang Menguras Energi Pikiran
Pernah nggak sih, lo lagi enak-enak rebahan jam dua pagi, lampu kamar sudah redup, dan badan sebenarnya sudah capek maksimal, tapi tiba-tiba otak lo malah muterin "film pendek" tentang kesalahan memalukan yang lo lakuin lima tahun lalu? Atau mungkin, lo baru saja kirim chat ke gebetan, dan karena dia belum balas dalam sepuluh menit, lo mulai bikin skenario kalau dia sebenarnya risih sama lo, atau lebih parahnya lagi, dia lagi ngetawain chat lo bareng teman-temannya? Selamat, lo baru saja terjebak dalam hobi yang nggak ada pialanya: overthinking.
Di zaman sekarang, overthinking itu sudah kayak tamu nggak diundang yang betah banget nongkrong di kepala. Istilah ini sering banget lewat di timeline media sosial kita, sampai-sampai kadang kita menormalisasinya sebagai "ya emang gue begini orangnya." Padahal, kalau dibiarin terus-menerus, overthinking ini bukan sekadar mikir, tapi sudah masuk tahap sabotase diri. Ini adalah proses di mana otak kita bekerja lembur tanpa dibayar, cuma buat membedah hal-hal yang sebenarnya nggak perlu dibedah sampai sedalam itu.
Skenario Terburuk dan Labirin Tanpa Ujung
Secara sederhana, overthinking adalah kondisi di mana kita memikirkan sesuatu secara berlebihan dan berulang-ulang. Masalahnya, yang dipikirin biasanya bukan solusi, melainkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Psikolog sering menyebut ini sebagai rumiansi—mirip kayak sapi yang mengunyah kembali rumput yang sudah ditelan. Kita mengunyah kembali kenangan pahit atau kecemasan masa depan sampai rasanya hambar dan bikin mual.
Bayangin otak lo itu kayak komputer. Normalnya, lo buka satu atau dua aplikasi buat kerja. Tapi pas lagi overthinking, lo buka seratus tab sekaligus. Ada tab "gimana kalau nanti gue dipecat?", tab "tadi gue salah ngomong nggak ya sama atasan?", sampai tab "apa benar kucing gue sebenarnya nggak sayang sama gue?". Hasilnya? Komputernya panas, lemot, dan akhirnya crash. Begitulah kondisi mental kita kalau terus-menerus dipaksa mikirin hal-hal fiktif yang cuma ada di imajinasi.
Lucunya, kita sering merasa kalau dengan overthinking, kita itu lagi bersikap waspada atau "prepare for the worst." Padahal, ada beda tipis antara berpikir kritis dan overthinking. Berpikir kritis itu mencari jalan keluar, sementara overthinking itu cuma muter-muter di dalam labirin yang kita bangun sendiri. Kita terjebak dalam analysis paralysis, di mana saking banyaknya pertimbangan, kita malah nggak ngapa-ngapain sama sekali.
Kenapa Kita Begitu Hobi Menyiksa Diri?
Pertanyaannya, kenapa sih otak kita suka banget nyari penyakit? Salah satu biang keroknya adalah standar kesempurnaan alias perfeksionisme yang makin gila di era digital ini. Kita melihat hidup orang lain di Instagram yang kayaknya mulus banget tanpa filter (padahal filternya berlapis-lapis). Akhirnya, kita jadi takut salah. Kita takut langkah yang kita ambil itu nggak sekeren orang lain, atau kita takut dihakimi oleh netizen yang bahkan nggak kenal kita secara pribadi.
Selain itu, kurangnya kontrol atas masa depan juga bikin kita cemas. Manusia itu secara alami nggak suka dengan ketidakpastian. Jadi, otak mencoba "mengamankan" situasi dengan cara memikirkan semua skenario buruk supaya kita nggak kaget kalau itu beneran terjadi. Padahal kenyataannya, energi yang kita buang buat cemas itu jauh lebih besar daripada energi yang kita butuhkan buat menghadapi masalahnya kalau emang beneran kejadian.
Belum lagi soal media sosial yang bikin kita selalu merasa "kurang." Kita scrolling jam 11 malam, lihat teman yang baru saja beli mobil atau naik jabatan, dan tiba-tiba otak kita mulai nyusun narasi: "Kok gue gini-gini aja ya? Apa gue salah jurusan? Apa gue kurang kerja keras?" Dan boom, sesi overthinking dimulai sampai subuh.
Energi yang Terkuras Habis
Jangan salah, overthinking itu capeknya luar biasa. Meski badan lo cuma duduk diam di kursi atau rebahan di kasur, otak lo itu lagi lari maraton. Efeknya nggak cuma di mental, tapi merembet ke fisik. Pernah nggak lo merasa lemas banget padahal lo nggak habis olahraga berat? Itu bisa jadi karena energi psikis lo habis dipakai buat berantem sama pikiran sendiri.
Overthinking juga merusak kualitas tidur. Tidur yang harusnya jadi waktu buat recovery malah jadi waktu buat sidang paripurna di dalam kepala. Kalau tidur sudah keganggu, besoknya lo bakal gampang marah, susah fokus, dan makin gampang buat overthinking lagi. Siklus setan ini bakal terus berputar sampai lo mutusin buat narik rem darurat.
Selain itu, hubungan sosial juga bisa kena imbasnya. Seorang overthinker cenderung bakal sering nanya ke pasangannya atau temannya, "Lo marah ya sama gue?" padahal aslinya nggak ada apa-apa. Atau mereka bakal narik diri dari pergaulan karena takut salah ngomong. Lama-lama, orang di sekitar bisa capek sendiri ngadepin ketidakpastian yang sebenarnya kita ciptakan sendiri di kepala kita.
Lalu, Gimana Caranya Biar Nggak "Gila" Mikir?
Sejujurnya, nggak ada tombol off otomatis buat berhenti overthinking. Tapi, kita bisa belajar buat jadi "satpam" buat pikiran kita sendiri. Salah satu caranya adalah dengan belajar masa bodoh. Bukan berarti jadi cuek nggak bertanggung jawab, tapi belajar membedakan mana hal yang bisa kita kontrol dan mana yang nggak. Kalau itu di luar kendali kita—kayak pendapat orang lain atau masa lalu—ya sudah, let it go. Susah? Banget. Tapi harus dicoba.
Cara praktis lainnya adalah dengan menulis. Kalau pikiran lo sudah kayak benang kusut, coba tuangkan ke kertas atau aplikasi notes di HP. Dengan menulis, lo "memindahkan" beban dari otak ke media lain. Lo bakal sadar kalau banyak hal yang lo takutin itu ternyata terdengar konyol pas sudah ditulis jadi kalimat.
Terakhir, lo perlu sadar kalau dunia nggak berputar di sekitar kesalahan-kesalahan lo. Orang lain itu terlalu sibuk sama masalahnya sendiri buat mikirin kegagalan lo. Jadi, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau emang hari ini lo berbuat salah, ya sudah, minta maaf atau perbaiki, terus lanjut lagi. Hidup ini sudah cukup berat buat ditambahin drama-drama fiktif buatan otak kita sendiri.
Intinya, otak lo itu alat yang hebat, jangan biarin dia jadi penjara buat lo. Kadang, jawaban terbaik buat semua pertanyaan rumit di kepala lo bukan dengan mikir lebih keras, tapi dengan tutup mata, ambil napas panjang, dan bilang ke diri sendiri: "Yaudahlah, gimana nanti aja." Karena seringkali, hal-hal yang kita takutin nggak pernah beneran datang, dan kita cuma habis waktu buat ketakutan di bawah selimut.
Next News

Pentingnya Istirahat Berkualitas untuk Menjaga Produktivitas
8 hours ago

Mengatasi Rasa Malas dan Menumbuhkan Motivasi Diri
8 hours ago

Peran Generasi Muda dalam Mendorong Perubahan Positif di Masyarakat
8 hours ago

Tips Cerdas Mengatur Keuangan Pribadi Agar Lebih Stabil
8 hours ago

Mengenal Pola Hidup Sehat yang Mudah Diterapkan Sehari-hari
8 hours ago

Cara Mengatur Waktu Agar Hidup Lebih Seimbang
11 hours ago

Self Healing: Apa Benar Bisa Dilakukan Sendiri?
11 hours ago

Produktif Bukan Berarti Sibuk: Ini Perbedaannya
11 hours ago

Kenapa Kita Mudah Tersinggung? Ini Penjelasan Psikologinya
12 hours ago

Pentingnya Mengenal Diri Sendiri di Era Serba Cepat
12 hours ago





