Overthinking
Redaksi - Monday, 13 April 2026 | 08:00 AM


Seni Menyiksa Diri Lewat Pikiran: Kenapa Kita Hobi Banget Overthinking?
Pernah nggak sih lu lagi enak-enak mau merem, lampu kamar sudah mati, posisi bantal sudah pas, eh tiba-tiba otak lu bertingkah? Tiba-tiba saja memori memalukan lima tahun lalu saat lu salah sebut nama orang di depan umum muncul kembali dengan resolusi 4K. Atau yang lebih parah, lu mulai merancang skenario fiktif tentang masa depan yang sebenarnya belum tentu terjadi, tapi sukses bikin jantung deg-degan seolah besok adalah hari kiamat. Selamat datang di klub, lu sedang terjebak dalam pusaran bernama overthinking.
Overthinking itu ibarat lu lagi naik kursi goyang. Lu gerak terus, capek iya, tapi nggak pindah ke mana-mana. Di zaman sekarang, overthinking sudah kayak hobi nasional yang nggak sengaja kita tekuni. Dari urusan chat yang cuma dibalas "P" doang sama gebetan, sampai mikirin nasib ekonomi dunia yang sebenarnya nggak bakal berubah juga meskipun lu begadang semalaman. Tapi, kenapa sih otak manusia hobi banget nyari penyakit lewat pikiran sendiri?
Skenario Fiktif dan Sutradara di Dalam Kepala
Salah satu ciri khas overthinker garis keras adalah kemampuannya menjadi sutradara film horor atau thriller di dalam kepalanya sendiri. Kita sering banget bikin premis "Jangan-jangan..." atau "Gimana kalau...". Bayangin aja, cuma gara-gara bos di kantor nggak balas senyum pas papasan di lorong, kita bisa langsung mikir kalau kontrak kerja nggak bakal diperpanjang, cicilan motor bakal macet, dan akhirnya kita bakal jadi pengangguran yang terlunta-lunta di jalanan. Padahal, bisa aja si bos cuma lagi nahan kebelet atau kacamata minusnya ketinggalan.
Masalahnya, otak kita itu didesain untuk bertahan hidup. Dulu, nenek moyang kita harus waspada sama suara semak-semak karena mungkin ada macan. Sekarang? Macannya sudah nggak ada, tapi kewaspadaan itu malah pindah ke hal-hal sepele. Kita jadi terlalu protektif sama diri sendiri sampai akhirnya malah menciptakan monster-monster imajiner yang sebenarnya nggak nyata. Kita terlalu sibuk mengantisipasi rasa sakit yang belum tentu datang, sampai lupa menikmati kopi yang ada di depan mata.
Media Sosial: Bensin di Tengah Api Overthinking
Kalau overthinking adalah apinya, maka media sosial adalah bensinnya. Sering banget kan, lagi asyik scrolling Instagram atau TikTok, niatnya mau nyari hiburan malah berakhir jadi sesi audit diri sendiri. Lu lihat teman SMA lu sudah posting foto nikahan yang estetik, atau teman kantor yang baru aja "healing" ke luar negeri, sementara lu masih di kamar yang sama, pakai daster yang sama, sambil makan mi instan di atas kasur.
Di detik itu juga, tombol overthinking langsung terpencet otomatis. "Kok hidup gue gini-gini aja ya?", "Gue salah langkah di mana ya?", "Kenapa orang lain kelihatannya gampang banget bahagia?". Kita lupa kalau apa yang tampil di layar HP itu cuma highlight reel, potongan-potongan terbaik yang sudah difilter sedemikian rupa. Kita membandingkan proses "belakang layar" kita yang berantakan dengan "panggung depan" orang lain yang sudah dipoles. Jelas aja kalah telak, dan akhirnya pikiran kita jadi makin liar nggak karuan.
Lumpuh Karena Terlalu Banyak Mikir
Pernah dengar istilah analysis paralysis? Itu tuh kondisi di mana lu terlalu banyak mikir sampai akhirnya nggak melakukan apa-apa. Mau mulai bisnis, mikir risikonya sampai detail banget, akhirnya nggak jadi jualan. Mau chat duluan, mikir nanti dibalas apa enggak, akhirnya HP cuma dipandangin sampai baterainya habis. Kita terlalu takut salah langkah, sampai akhirnya memilih untuk diam di tempat.
Padahal, hidup itu sebenarnya lebih mirip kayak main game yang map-nya baru terbuka kalau kita jalan. Kita nggak akan pernah tahu apa yang ada di depan kalau kita cuma berdiri di titik start sambil mikirin semua kemungkinan buruk. Overthinking bikin kita jadi pengecut yang paling intelek; kita punya ribuan alasan logis untuk tidak mencoba, padahal sebenarnya kita cuma takut gagal.
Lalu, Gimana Cara Biar Nggak "Gila" Sendiri?
Jujur aja, menyuruh orang buat "berhenti overthinking" itu sama gunanya kayak menyuruh orang yang lagi marah buat "sabar ya". Nggak bakal mempan. Tapi, ada beberapa hal receh yang sebenarnya cukup membantu. Pertama, sadari kalau pikiran lu itu bukan fakta. Cuma karena lu merasa semua orang benci sama lu, bukan berarti itu benar. Pikiran kita itu sering banget bohong, apalagi kalau lagi capek atau lapar.
Kedua, coba buat "jam overthinking". Kasih waktu 15 menit sehari buat mikirin semua kecemasan lu. Habis itu? Ya sudah, lanjut hidup. Kalau ada pikiran buruk muncul di luar jam itu, bilang ke diri sendiri, "Nanti aja ya jam 8 malam gue pikirin lagi." Kedengarannya konyol, tapi cara ini lumayan ampuh buat ngasih batasan ke otak kita yang nggak tahu diri itu.
Terakhir, bergeraklah. Kadang cara paling ampuh buat mematikan kebisingan di kepala adalah dengan menyibukkan badan. Cuci piring, beresin kamar, atau sekadar jalan kaki ke depan kompleks buat beli gorengan. Saat badan kita fokus sama aktivitas fisik, otak biasanya bakal sedikit lebih kalem karena bebannya terbagi.
Overthinking itu manusiawi, kok. Itu tandanya lu peduli sama hidup lu, tandanya lu pengen yang terbaik buat masa depan lu. Tapi ingat, jangan sampai lu terlalu sibuk merancang masa depan atau meratapi masa lalu sampai lupa kalau lu hidup di masa sekarang. Hidup ini sudah cukup berat tanpa perlu ditambah-tambahin sama drama fiktif buatan otak sendiri. Jadi, yuk, taruh HP-nya, tarik napas dalam-dalam, dan coba buat tidur. Besok masih banyak hal nyata yang harus lu urusin daripada cuma sekadar asumsi nggak jelas di dalam kepala.
Next News

Kacang Kulit: Camilan Wajib Pendamping Kopi dan Gosip di Warkop
in 7 hours

Kenapa Wortel Bisa Bikin Mata Jernih? Cek Fakta dan Sejarahnya
in 7 hours

Fungsi Laptop yang Kini Lebih dari Sekadar Alat Elektronik
in 6 hours

5 Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital Agar Tetap Jernih
in 6 hours

Kopi dan Gaya Hidup: Syarat Wajib Jadi Manusia Produktif
in 6 hours

Kupas Tuntas Mitos Pesantren: Dari Senioritas hingga Inovasi
in 3 hours

Kenali Kekuatan Musik Pop yang Bikin Kamu Betah Belanja
in 3 hours

Mood Swing
8 hours ago

Olahraga Ringan
8 hours ago

Manfaat Jalan Kaki
8 hours ago





