Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM


Makan Karena Hati, Bukan Karena Laper: Seni Melampiaskan Emosi Lewat Mulut
Pernah nggak sih, tiba-tiba jam sebelas malam, saat suasana lagi syahdu-syahdunya tapi hati lagi berantakan karena habis kena semprot bos atau baru saja diputusin lewat chat, jari kamu secara otomatis membuka aplikasi pesan antar makanan? Niatnya cuma mau lihat-lihat, eh, tiba-tiba martabak manis keju susu spesial sudah mendarat di depan pagar rumah. Padahal, sejam sebelumnya kamu baru saja makan malam dengan porsi yang cukup bikin kenyang sampai pagi. Fenomena inilah yang sering kita kenal dengan istilah emotional eating atau makan emosional.
Jujurly, hampir semua dari kita pasti pernah mengalaminya. Di generasi yang serba cepat dan penuh tekanan ini, makanan bukan lagi sekadar bensin buat tubuh, tapi sudah bergeser fungsinya jadi alat validasi perasaan atau bahkan pelarian. Istilah comfort food nggak muncul tanpa alasan, kan? Makanan memang punya kekuatan magis untuk memberikan pelukan hangat yang nggak bisa diberikan oleh manusia, meskipun sifatnya cuma sementara banget.
Kenapa Kita Makan Saat Sedih (Atau Senang Banget)?
Makan emosional itu sebenarnya adalah cara otak kita mencari jalan pintas untuk merasa bahagia. Saat kita stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang tinggi. Nah, kortisol ini punya hobi yang agak menyebalkan: dia bikin kita pengen makan sesuatu yang manis, berlemak, atau asin. Kenapa? Karena makanan jenis itu memicu pelepasan dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang bikin kita merasa "ah, mantap" dan rileks sesaat. Jadi, sebenarnya yang butuh asupan itu bukan lambung kamu, tapi mental kamu yang lagi butuh "hiburan" instan.
Masalahnya, makan emosional ini nggak cuma terjadi saat kita sedih. Pas lagi senang banget karena dapet bonus atau menang giveaway, kita juga sering merayakannya dengan makan gila-gilaan. "Self-reward" katanya. Tapi batas antara apresiasi diri dan pelampiasan tanpa kontrol itu tipis banget, setipis tisu dibagi dua. Kalau setiap ada perasaan yang sedikit bergejolak kita langsung lari ke gorengan atau boba, lama-lama hubungan kita sama makanan jadi nggak sehat alias toxic.
Beda Laper Perut vs Laper Mata (Eh, Laper Hati)
Membedakan lapar fisik dan lapar emosional itu sebenarnya gampang-gampang susah kalau kita nggak peka sama tubuh sendiri. Lapar fisik itu datangnya bertahap. Perut keroncongan, ada bunyi kriuk-kriuk, dan biasanya kamu terbuka untuk makan apa saja yang tersedia di meja makan. Mau nasi pakai telur oke, mau makan sayur juga ayo.
Beda cerita kalau lapar emosional. Datangnya kayak petir di siang bolong—tiba-tiba dan mendesak. Kamu nggak cuma pengen makan, tapi pengen makan sesuatu yang spesifik. Misalnya, harus keripik kentang merk A atau cokelat merk B. Dan anehnya, meskipun perut sudah terasa begah dan penuh, mulut rasanya nggak mau berhenti ngunyah. Kamu makan bukan untuk kenyang, tapi untuk membungkam suara-suara berisik di kepala atau menambal lubang sepi di hati.
Lingkaran Setan: Kenyang, Bahagia, Lalu Menyesal
Nah, ini dia bagian yang paling nggak enak dari makan emosional: fase after-taste-nya. Setelah semua makanan itu masuk ke perut dan hormon dopamin mulai turun, biasanya muncul perasaan bersalah yang luar biasa. "Duh, kenapa tadi aku makan segitu banyak ya?", "Yah, dietku gagal lagi deh," atau "Duit jajan minggu ini habis cuma buat makan sehari."
Rasa bersalah ini bukannya bikin kita berhenti, malah seringkali memicu stres baru. Dan karena kita stres, tebak apa yang kita lakukan? Ya, kita makan lagi untuk menghilangkan rasa bersalah itu. Begitu terus sampai akhirnya kita terjebak dalam lingkaran setan yang bikin timbangan naik dan kesehatan mental makin terpuruk. Ini bukan lagi soal lemak atau kalori, tapi soal bagaimana kita gagal memproses emosi dengan cara yang benar.
Terus, Gimana Biar Nggak Terus-terusan Kejebak?
Menghilangkan kebiasaan makan emosional itu nggak bisa dilakukan cuma dalam semalam dengan motivasi ala-ala motivator di Instagram. Kita butuh kesadaran penuh atau mindfulness. Langkah pertama adalah dengan melakukan jeda. Saat tanganmu sudah gatal pengen pesan makanan padahal belum waktunya makan, coba tanya ke diri sendiri: "Aku beneran laper, atau aku cuma lagi bosen/sedih/marah?"
Coba kasih waktu lima menit untuk nggak melakukan apa-apa. Minum air putih segelas besar, atau kalau perlu, curhat di buku harian atau ke teman. Terkadang, perasaan itu cuma butuh didengar, bukan dikasih makan ayam geprek level sepuluh. Cari alternatif kegiatan yang bisa naikin mood tanpa bikin kolesterol naik. Jalan kaki sore sambil dengerin podcast, skincare-an, atau sekadar main sama kucing peliharaan bisa jadi pilihan yang lebih bijak.
Tapi ingat ya, sesekali makan karena emosi itu manusiawi banget. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau memang hari itu terasa berat banget dan cuma sepotong kue cokelat yang bisa bikin kamu merasa lebih baik, ya silakan dimakan. Yang penting adalah kontrol. Kita harus jadi bos atas perut kita sendiri, bukan malah jadi budak dari emosi yang kebetulan lagi lewat.
Kesimpulannya, makanan itu sahabat kita, bukan musuh. Tapi layaknya sahabat, kita harus tahu batasan agar hubungan tetap harmonis. Mari kita mulai belajar untuk "merasakan" emosi kita, bukan malah "memakannya". Karena pada akhirnya, masalah yang kita punya nggak bakal selesai cuma dengan sekali telan, tapi harus dihadapi dengan kepala dingin dan perut yang kenyangnya pas.
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
18 minutes ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
18 minutes ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
18 minutes ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
18 minutes ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
18 minutes ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
18 minutes ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
2 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
3 days ago

Hustle Culture dan Burnout: Kenapa Generasi Sekarang Mudah Lelah Mental
3 days ago





