Hustle Culture dan Burnout: Kenapa Generasi Sekarang Mudah Lelah Mental
Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 10:00 AM


Burnout: Saat Mesin di Kepala Mulai Keluar Asap dan Hati Terasa Kopong
Pernah nggak sih kamu merasa pengen banget resign padahal baru aja buka mata di hari Senin pagi? Padahal semalam sudah tidur delapan jam, sudah pakai skincare lengkap, bahkan sudah dengerin playlist "Lo-fi Beats to Study/Relax To" biar vibes-nya tenang. Tapi pas denger suara notifikasi WhatsApp Group kantor, rasanya kayak denger suara alarm kiamat. Kalau kamu pernah merasakannya, selamat datang di klub. Kamu nggak sendirian, dan kemungkinan besar, kamu lagi kena yang namanya burnout.
Dulu, istilah burnout mungkin cuma dianggap sebagai bahasa keren buat orang yang malas. Tapi sekarang, burnout sudah jadi rahasia umum di kalangan budak korporat, freelancer, sampai mahasiswa semester tua. Burnout itu bukan sekadar capek biasa yang bisa hilang cuma dengan tidur siang atau makan seblak level lima. Ini adalah kondisi di mana mental, fisik, dan emosi kamu benar-benar terkuras habis. Rasanya kayak baterai HP yang sudah bocor; di-charge semalaman pun, baru dipakai buka Instagram sebentar sudah langsung lowbatt lagi.
Lebih dari Sekadar Capek: Bedanya Lelah Biasa sama Burnout
Kita sering salah kaprah menyamakan burnout dengan lelah setelah kerja lembur. Bedanya begini: kalau kamu lelah biasa, setelah liburan akhir pekan ke Puncak atau tidur seharian di hari Minggu, biasanya semangatmu bakal balik lagi. Kamu bakal merasa segar dan siap menghadapi bos yang hobi revisi di menit-menit terakhir. Tapi kalau burnout? Kamu bisa saja liburan ke Bali seminggu penuh, tapi pas pulang ke rumah dan lihat laptop, rasa mual dan sesak itu datang lagi. Kamu merasa terjebak dalam lubang yang nggak ada ujungnya.
Ciri utamanya biasanya diawali dengan sinisme. Kamu yang dulunya penuh semangat dan idealis, tiba-tiba jadi orang yang paling sarkastik di kantor. Ada proyek baru? "Ah, paling juga gagal." Ada rekan kerja yang berprestasi? "Halah, cari muka doang itu." Rasa peduli kamu perlahan menguap, digantikan oleh sikap masa bodoh yang akut. Kamu melakukan pekerjaan cuma sekadar biar nggak dipecat, tanpa ada rasa kepuasan sedikit pun. Intinya, hati kamu terasa kopong, kayak kerupuk yang kelamaan dibiarkan di udara terbuka.
Kenapa Kita Mudah Banget "Kebakar"?
Pertanyaannya, kenapa sih generasi sekarang kayaknya rentan banget kena burnout? Apakah kita lebih lembek dibanding generasi orang tua kita dulu? Jawabannya tentu nggak sesederhana itu. Kita hidup di era "Hustle Culture" yang sangat toksik. Media sosial setiap hari menyuapi kita dengan narasi bahwa kalau nggak sibuk, berarti nggak sukses. Kita melihat orang umur 23 tahun sudah punya startup sendiri, atau teman SMA yang tiba-tiba posting foto lagi liburan di Swiss hasil kerja keras bagai kuda. Akhirnya, kita memaksakan diri untuk terus berlari tanpa pernah tahu kapan harus berhenti.
Belum lagi masalah "always on". Berkat teknologi, kantor sekarang ada di kantong celana kita. Atasan bisa nge-chat jam 9 malam cuma buat nanya file yang sebenarnya bisa dibahas besok pagi. Batasan antara ruang pribadi dan ruang kerja jadi makin kabur, bahkan hilang sama sekali. Kita merasa bersalah kalau nggak membalas pesan kerjaan dengan cepat. Fenomena "FOMO" alias Fear of Missing Out juga ikut andil. Kita takut tertinggal, takut dianggap nggak produktif, sampai akhirnya kita lupa kalau kita ini manusia, bukan mesin yang bisa di-upgrade RAM-nya kapan saja.
Sinyal Bahaya yang Sering Kita Abaikan
Burnout nggak datang tiba-tiba kayak jerawat setelah makan kacang. Dia merayap pelan-pelan. Awalnya mungkin cuma sakit kepala yang hilang timbul, atau gangguan pencernaan yang aneh. Kamu mulai sulit konsentrasi, sering lupa naruh kunci motor, atau typo berulang kali pas ngetik email penting. Secara emosional, kamu jadi lebih sensitif. Istilah anak sekarang "senggol bacok". Teman bercanda sedikit, kamu langsung baper atau marah besar.
Lama-lama, burnout ini berdampak ke performa. Kamu yang biasanya sat-set-wat-wet dalam menyelesaikan tugas, sekarang butuh waktu berjam-jam cuma buat bikin satu slide presentasi. Kamu mulai merasa nggak kompeten dan meragukan kemampuan diri sendiri. "Jangan-jangan aku memang nggak bakat di sini," atau "Mungkin aku memang bodoh." Pemikiran-pemikiran gelap ini kalau dibiarkan bisa mengarah ke depresi yang lebih serius. Jadi, tolong, jangan anggap remeh kalau badanmu sudah mulai kasih kode.
Gimana Cara "Memadamkan" Apinya?
Terus, solusinya gimana? Apakah harus langsung resign tanpa rencana? Ya jangan juga kalau cicilan masih menumpuk. Langkah pertama adalah dengan jujur pada diri sendiri. Akui kalau kamu lagi nggak baik-baik saja. Berhenti berpura-pura jadi pahlawan yang bisa menghandle semua beban sendirian. Kamu perlu menetapkan batasan alias boundaries. Mulailah berani bilang "nggak" untuk tambahan kerjaan yang memang sudah di luar kapasitasmu. Tentukan jam berapa kamu benar-benar harus berhenti menyentuh urusan kantor.
Kedua, cari pelarian yang sehat. Dan nggak, "healing" nggak harus selalu mahal sampai harus ke luar negeri. Terkadang, healing itu sesederhana mematikan notifikasi HP selama dua jam, jalan kaki sore di taman, atau masak mie instan pakai telur sambil nonton drakor tanpa merasa bersalah. Intinya, lakukan aktivitas yang nggak ada hubungannya dengan produktivitas atau pencapaian. Biarkan otakmu beristirahat dari tuntutan untuk jadi "hebat".
Terakhir, kalau memang rasanya sudah terlalu berat dan kamu mulai kehilangan fungsi sehari-hari, jangan ragu buat cari bantuan profesional. Datang ke psikolog itu bukan tanda kamu gila, tapi tanda kamu cukup berani untuk peduli pada dirimu sendiri. Ingat, dunia nggak akan runtuh kalau kamu beristirahat sebentar. Perusahaan mungkin bisa mencari penggantimu dalam hitungan hari, tapi kesehatan mentalmu nggak ada cadangannya. Jadi, yuk, tarik napas dalam-dalam, hembuskan, dan pelan-pelan saja. Hidup ini maraton, bukan lari sprint yang harus selesai dalam sekejap.
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
2 hours ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
2 hours ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
2 hours ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
2 hours ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
2 hours ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
2 hours ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
2 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
3 days ago

Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
3 days ago





