Selasa, 7 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Cara mengatur pola makan sehat

Redaksi - Monday, 06 April 2026 | 11:00 AM

Background
Cara mengatur pola makan sehat
Cara mengatur pola makan sehat ( Istimewa/)

Diet Gak Harus Siksa: Seni Mengatur Pola Makan Tanpa Kehilangan Kewarasan

Pernah nggak sih kamu merasa dihantui setiap kali buka TikTok atau Instagram? Isinya kalau bukan video orang pamer abs, ya video What I Eat in a Day yang isinya cuma salad, air lemon, dan entah apa lagi makanan yang namanya susah dieja. Melihat itu semua, rasanya kayak ada beban moral tiap kali kita mau menyentuh sepiring nasi uduk lengkap dengan gorengannya di pinggir jalan. Seolah-olah, kalau kita nggak makan chia seeds atau avocado toast, hidup kita sebagai manusia sehat itu sudah tamat.

Padahal, kenyataannya nggak se-ekstrem itu. Mengatur pola makan sehat itu bukan berarti kita harus mendadak jadi kelinci yang cuma makan dedaunan hijau sepanjang hari. Masalahnya, banyak dari kita yang terjebak dalam pola pikir "besok diet total". Hari ini kita kalap makan apa saja karena mikirnya besok bakal mulai hidup sehat. Eh, pas besoknya datang, baru bertahan sampai jam makan siang sudah tumbang karena tergoda aroma bakso yang lewat depan kantor. Siklus ini berulang terus sampai akhirnya kita cuma bisa bilang, "Ah, diet itu berat, biar Dilan aja."

Buang Jauh-jauh Mentalitas 'All or Nothing'

Hal pertama yang perlu kita bicarakan adalah soal mentalitas. Kebanyakan orang gagal mengatur pola makan karena mereka pakai sistem "semua atau tidak sama sekali". Kalau sudah niat sehat, maunya langsung nggak makan nasi, nggak minum manis, nggak ngemil, dan olahraga dua jam sehari. Ya jelas tumbang dalam tiga hari, Bos! Badan kita itu butuh adaptasi, bukan revolusi mendadak ala kudeta militer.

Coba deh ganti pendekatannya. Mulai dari hal-hal kecil yang nggak bikin stres. Misalnya, kalau biasanya minum kopi susu pakai gula tambahan dua sendok, coba kurangi jadi satu sendok dulu. Atau kalau biasanya makan nasi porsinya kayak kuli bangunan, coba kurangi sedikit demi sedikit dan ganti kekurangannya pakai sayur. Intinya, sustainable alias berkelanjutan itu jauh lebih penting daripada hasil instan tapi cuma bertahan seminggu.

Kenalan Sama Aturan 80/20

Nah, buat kita yang masih punya jiwa petualang kuliner dan nggak bisa jauh dari seblak atau gorengan, ada satu metode yang cukup manusiawi: aturan 80/20. Prinsipnya sederhana banget. Kamu berusaha makan makanan "bersih" atau bernutrisi tinggi sekitar 80 persen dari total waktu makanmu dalam seminggu. Sisanya yang 20 persen? Silakan digunakan buat memanjakan lidah alias cheat meal.



Kenapa ini penting? Karena makanan itu bukan cuma soal kalori dan nutrisi, tapi juga soal kebahagiaan dan interaksi sosial. Bayangkan betapa sedihnya kalau kamu diajak nongkrong sama teman-teman lama di kafe, tapi kamu cuma bisa duduk bengong sambil minum air mineral karena lagi diet ketat. Dengan aturan 80/20, kamu tetap bisa menikmati hidup tanpa harus merasa berdosa tujuh turunan setelah makan sepotong pizza.

Mindful Eating: Makan Pakai Kesadaran, Bukan Emosi

Pernah nggak kamu lagi nonton drakor atau lagi stres kerja, tiba-tiba satu bungkus keripik ukuran besar habis tanpa kamu sadari? Nah, itu namanya mindless eating. Kita makan bukan karena lapar, tapi karena bosan, stres, atau sekadar pengen mulut gerak saja. Di sinilah pentingnya mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran.

Cara memulainya gampang-gampang susah. Saat makan, coba simpan dulu HP-mu. Rasakan setiap suapan, teksturnya, aromanya, sampai rasa gurihnya. Kunyah perlahan. Ternyata, butuh waktu sekitar 20 menit buat perut kita kirim sinyal "kenyang" ke otak. Kalau kita makan secepat kilat sambil main Mobile Legends, otak kita belum sempat sadar kalau perut sudah penuh, eh kita sudah nambah porsi kedua. Rugi bandar, kan?

Jangan Takut Sama Karbohidrat, Mereka Bukan Penjahat

Ada anggapan umum di kalangan pejuang diet kalau nasi putih adalah musuh nomor satu umat manusia. Padahal, karbohidrat itu sumber energi utama otak dan tubuh kita. Tanpa karbohidrat, kamu bakal gampang emosi, lemas, dan mungkin jadi "senggol bacok". Masalahnya bukan di nasinya, tapi di porsi dan pendampingnya.

Kalau kamu nggak suka nasi merah yang teksturnya kayak pasir itu, ya sudah, makan nasi putih saja nggak apa-apa. Tapi imbangi dengan serat yang banyak dari sayuran dan protein dari tempe, tahu, ikan, atau ayam. Serat ini fungsinya kayak "polisi lalu lintas" di perut kita, dia bakal memperlambat penyerapan gula supaya kamu nggak gampang ngantuk dan nggak cepat lapar lagi. Jadi, jangan musuhi nasi, kasihan dia nggak salah apa-apa.



Hidrasi Itu Kunci, Bukan Sekadar Formalitas

Kadang-kadang, tubuh kita itu suka kasih sinyal palsu. Kamu merasa lapar, padahal sebenarnya cuma haus. Jadi, sebelum kamu memutuskan buat order martabak manis via ojol sore-sore, coba deh minum satu gelas besar air putih dulu. Tunggu sepuluh menit. Kalau rasa "lapar" itu hilang, berarti tadi itu cuma dehidrasi manja.

Membiasakan minum air putih yang cukup juga bikin kulit lebih glowing daripada pakai skincare mahal tapi kurang minum. Jadi, pastikan botol minum selalu ada di dekatmu, entah itu di meja kerja atau di tas saat lagi bepergian. Air putih itu murah, sehat, dan nggak bikin rekening bank menangis.

Istirahat yang Cukup, Karena Kurang Tidur Bikin Lapar

Mungkin kamu bingung, apa hubungannya tidur sama pola makan? Banyak banget! Pas kita kurang tidur, hormon ghrelin (yang bikin lapar) bakal melonjak, sementara hormon leptin (yang bikin kenyang) bakal merosot. Itulah kenapa kalau kamu begadang, bawaannya pengen makan mi instan pakai telur dan kornet jam satu malam.

Mengatur pola makan sehat itu sepaket sama pola hidup. Kalau tidurmu berantakan, kemauanmu buat milih makanan sehat bakal melemah. Kamu bakal lebih gampang tergoda makanan tinggi gula dan lemak buat cari energi instan karena badanmu capek. Jadi, mulai sekarang, kurangi scrolling media sosial sampai subuh kalau kamu memang niat buat hidup lebih sehat.

Ujung-ujungnya, pola makan sehat itu bukan soal mencapai angka tertentu di timbangan dalam waktu singkat. Ini soal gimana kita menghargai tubuh kita sendiri. Tubuh kita ini satu-satunya "rumah" yang kita punya seumur hidup, jadi wajar banget kalau kita kasih "bahan bakar" yang berkualitas. Tapi ingat, jangan sampai obsesi jadi sehat malah bikin kamu stres dan nggak bahagia. Temukan ritmemu sendiri, nikmati prosesnya, dan jangan lupa bahagia. Karena jiwa yang sehat berawal dari perut yang tenang dan pikiran yang senang.