Sejarah Berdirinya Masjid Madegan Polagan Sampang – Masjid Sumpah Pocong

Sejarah Berdirinya Masjid Madegan Kelurahan Polagan Sampang - Masjid Sumpah Pocong
Megah : Masjid Madegan Kelurahan Polagan Sampang

Selamat datang di Symphoni sejarah dan kebudayaan. Untuk edisi hari ini salsabilafm.com menyajikan kilas singkat sejarah berdirinya Masjid Madegan, Kelurahan Polagan Sampang, Madura, Jawa Timur.

Takmir Masjid Madegan, H. Hasin bin H. Abd Hamid menyampaikan bahwa tidak diketahui secara pasti dengan bukti sejarah yang menunjukkan kapan masjid Madegan berdiri.

Namun menurut tokoh masyarakat yang dapat dipercaya, Masjid Madegan didirikan sekitar abad 15 M, tepatnya pada masa Adipati Pramono, raja di wilayah kecil dikerajaan  Sampang yang berkeraton di Madegan Sampang.

Adipati Pramono merupakan raja Sampang pertama yang beragama Islam. Berkat sikapnya yang arif dan bijaksana dalam memimpin, maka dengan seizin Allah, rakyat Madegan Sampang berbondong bondong memeluk agama Islam.

Melihat banyaknya umat Islam kala itu, beliau berencana untuk mendirikan sebuah Masjid di dekat keraton Madegan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah sholat berjamaah.

Kemudian Adipati Pramono memutuskan untuk menyerahkan tanggungjawab pembangunan masjid terhadap putra angkatnya yang sudah bertahun-tahun lamanya bertirakat dalam pohon Sawo.

Adipati Pramono langsung pergi menuju pohon Sawo yang hanya berjarak beberapa meter dari kraton. Sesampainya di dekat lubang yang terdapat pada pohon Sawo. Beliau memanggil putra angkatnya yang tengah bertirakat di dalamnya.

Mendengar panggilan ayah angkatnya, sang petapa keluar dari pohon sawo untuk menjumpai sosok yang sangat ia hormati sebagai pengganti orang tua kandungnya yakni Adipati Pramono.

Setelah saling lepas rindu, Adipati Pramono mengutarakan maksud dan tujuannya serta menceritakan tentang rencana pembangunan Masjid Madegan.

Selepas mendengar dan memahami maksud sang ayah, putra angkat tersebut pamit untuk melaksanakan apa yang telah Adipati Pramono percayakan dan mandatkan untuknya serta langsung melangkahkan kakinya ke arah barat untuk memperoleh petunjuk dari Allah Swt.

Setelah berhari hari melakukan perjalanan penuh dzikir, putra angkat Adipati Pramono bertemu dengan seseorang yang memiliki tutur kata yang amat lemah lembut. Lantas orang tersebut memberikan petunjuk juga sebuah tongkat sebagai bekal untuk melaksanakan tugasnya.

Tiba-tiba orang tersebut menghilang dari hadapan sang petapa atau anak angkat Adipati Pramono. Selanjutnya sesuai petunjuk yang didapatkan, sang petapa berjalan ke arah Utara. Tak lama kemudian ia menemukan banyak kayu berserakan di daerah Bulang Desa Pangelen Kecamatan Sampang.

Dengan tongkat kayu yang ia percayai memeliki kekuatan gaib, sang petapa cukup menggerakkan tongkat itu pada kayu yang berserakan. Secara menakjubkan kayu tersebut bergeser menjadi satu tumpukan.

Dengan tongkat ajaib itu pula sang petapa melemparkan tumpukan kayu ke arah Madegan. Dengan seizin Allah tumpukan kayu itu berterbangan bagaikan dedaunan ditiup angin hingga jatuh ke tempat dimana masjid Madegan saat ini berdiri.

Sang petapa bergegas menuju tempat tumpukan kayu tersebut jatuh. Kemudian ia kembali menggunakan tongkat itu sebagai alat untuk membangun masjid. Alangkah menakjubkan masjid Madegan selesai dibangun hanya dalam waktu semalam.

Setelah melaksanakan tugasnya, sang petapa menemui sang ayah Adipati Pramono dan memohon diri kembali masuk ke pohon sawu untuk melanjutkan tirakatnya. Konon sang petapa hingga saat ini masih berada dalam pohon sawo yang saat masih tersisa dengan bentuk batangan kecil.

Demikan sekelumit sejarah berdiranya Masjid Madegan, masjid tertua di seluruh Madura yang hingga kini masih berdirih kokoh dan dikenal sebagai masjid yang dijadikan tempat untuk menggelar ritual sumpah pocong oleh masyarakat Madura maupun sekitarnya. (Romi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *