Masyarakat Madura Kompak Membaca Burdah Untuk Melawan Covid-19

Masyarakat Madura Kompak Membaca Burdah Untuk Melawan Covid-19
Antusias, putra putri Madura saat mengikuti pembacaan Burdah keliling di Desa Kajen Blega Bangkalan

Tradisi membaca shalawat Burdah yang dilakukan oleh komunitas muslim sejak zaman dahulu, hingga kini terus diamalkan dan dilafalkan sebagai salah satu wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, mahakarya Imam Busyiri ini juga dipercayai dapat menangkal dan menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk Corona Virus Disease atau Covid-19 yang saat ini tengah melanda dunia.

Masyarakat Madura kompak melantunkan sholawat burdah di tengah pandemi Covid-19, baik dibaca sendiri sebagai wirid maupun dilantukan bersama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Pliyang Sampang.

Setiap seminggu sekali, bersama tokoh agama setempat, warga Pliyang rutin mengadakan burdah keliling dengan harapan dapat diselamatkan dari segala bentuk mudarat utamanya Covid-19.

Salah satu tokoh masyarakat Pliyang, Ra Yahsir mengatakan, tradisi Burdah keliling adalah bentuk munajat dan meminta perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah, penyakit, wabah, khususnya Covid-19.

“Tradisi ini adalah bentuk kita bermunajat memohon perlindungan dari segala musibah dan bencana yang kita alami, seperti saat ini dengan adanya virus Corona yang melanda semua daerah,” ungkapnya, Rabu (7/7/2021).

“Apalagi sekarang sudah ada surat edaran bupati yang memerintahkan untuk memabaca sholawat Burdah dan Thibbil Qulub di masjid dan musholla,” jelasnya.

Ia menyampaikan, pembacaan Burdah keliling kampung Pliyang ini diikuti oleh para sesepuh, tokoh agama, kelompok pemuda dan elemen masyarakat lainnya.

Tidak hanya di Sampang, tradisi Burdah keliling juga dapat ditemukan di 3 Kabupaten lainnya di Madura. Seperti, Burdah keliling yang dilakukan di Desa Kajen Blega Bangkalan.

Hal senada juga disampaikan ust. Baidhowi salah satu tokoh di Desa kajjan Blega, bangakalan.

“Insyaallah kegiatan ini sangat bernilai positif dan penuh barokah, karena mengandung nilai-nilai Taqorruban Ilallah antara hamba yang dhoif kepada sang Kholiq yaitu Allah Azzawajalla,” ungkap Ustad Baidhowi, tokoh masyarakat setempat. (Mukrim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *