Kamis, 30 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Stres Finansial

Redaksi - Sunday, 26 April 2026 | 08:00 AM

Background
Stres Finansial
Stres Finansial ( Istimewa/)

Ketika Saldo M-Banking Lebih Menakutkan daripada Film Horor: Seni Berdamai dengan Stres Finansial

Pernah nggak sih kamu ngerasa deg-degan parah cuma gara-gara mau ngecek saldo di aplikasi m-banking? Padahal kamu nggak lagi nungguin pengumuman undian berhadiah atau teror dari mantan. Rasa sesak di dada itu muncul karena kamu tahu persis apa yang bakal terpampang di layar: deretan angka yang jumlah digitnya makin hari makin ciut, sementara tanggal gajian masih lamat-lamat di ujung bulan. Kalau kamu pernah merasakannya, selamat, kamu baru saja mencicipi apa yang namanya stres finansial.

Stres finansial itu bukan cuma soal "nggak punya duit". Kalau cuma nggak punya duit, solusinya ya cari duit atau tidur biar nggak laper. Tapi stres finansial itu lebih ke arah beban mental yang bikin kepala nyut-nyutan tiap kali ngelihat tagihan paylater, atau rasa bersalah yang muncul setelah kita "self-reward" padahal kondisi dompet lagi kritis. Ini adalah kondisi di mana pikiran kita tersandera oleh angka-angka, dan sayangnya, di zaman sekarang, tekanan ini makin terasa nyata buat anak muda.

Mari kita jujur-jujuran. Hidup di era media sosial ini bener-bener ngetes iman finansial. Tiap kali buka Instagram atau TikTok, isinya kalau nggak orang lagi pamer liburan ke Jepang, ya orang lagi unboxing gadget terbaru yang harganya setara motor second. Ada tekanan tak kasat mata yang bilang kalau kita nggak ikut gaya hidup kayak gitu, berarti kita gagal. Akhirnya, terjadilah fenomena "lifestyle creep"—di mana gaya hidup naik lebih cepet daripada kenaikan gaji. Kita maksa beli kopi lima puluh ribu demi estetika feed, tapi besoknya makan promag buat ganjel perut. Lucu sih kalau diceritain, tapi kalau dijalanin? Asli, bikin stres mental.

Salah satu biang kerok stres finansial yang paling jahat di era sekarang adalah kemudahan akses pinjaman. Dulu, kalau mau ngutang harus ke bank atau minimal ke tetangga dengan muka tebel. Sekarang? Cukup selfie sambil pegang KTP, duit langsung cair. Tapi ingat, kemudahan ini seringkali jadi jebakan batman. Banyak dari kita yang kejebak lingkaran setan "gali lubang tutup lubang" lewat aplikasi pinjol atau paylater. Pas belanja rasanya kayak sultan, pas jatuh tempo rasanya kayak dikejar setan. Stres yang muncul gara-gara tumpukan hutang ini beda level, bisa bikin orang susah tidur, gampang marah, sampai depresi.

Lalu, gimana cara kita menghadapi monster bernama stres finansial ini tanpa harus jadi pertapa di gunung? Langkah pertama yang paling berat adalah: jujur sama diri sendiri. Berhenti dengerin ego yang bilang "ah, nanti juga ada rezekinya" sambil checkout barang yang nggak butuh-butuh amat. Kita perlu duduk tenang, buka catatan (atau aplikasi pengatur keuangan), dan lihat kenyataan pahit soal ke mana perginya duit kita selama ini. Kadang, kita stres bukan karena kurang uang, tapi karena nggak tahu uangnya lari ke mana. Mengetahui musuh secara detail adalah separuh dari kemenangan.



Selain itu, kita juga harus mulai pinter-pinter bedain mana yang namanya "kebutuhan" dan mana yang cuma "lapar mata". Istilah "self-reward" itu bagus kalau emang beneran sebagai apresiasi atas kerja keras, tapi kalau tiap minggu ada self-reward, itu namanya bukan reward, tapi pemborosan terselubung. Nggak apa-apa kok kalau harus nolak ajakan nongkrong di tempat mahal demi menyelamatkan kewarasan dompet. Temen yang bener nggak bakal menjauh cuma gara-gara kamu milih makan di warteg daripada di cafe hits.

Penting juga buat kita untuk punya "bantalan" mental. Jangan taruh semua harga diri kita pada angka di saldo bank. Emang sih, uang itu penting banget, tapi uang bukan satu-satunya indikator kebahagiaan. Seringkali stres finansial jadi makin parah karena kita ngerasa rendah diri kalau nggak punya uang. Padahal, kondisi finansial itu fluktuatif, kayak roda yang berputar. Ada kalanya kita di atas, ada kalanya kita harus makan mi instan di akhir bulan. Itu manusiawi.

Buat kamu yang sekarang lagi di fase "sesek napas" tiap kali denger bunyi notifikasi tagihan, coba tarik napas dalam-dalam. Kamu nggak sendirian. Hampir semua orang pernah atau lagi ngalamin hal yang sama. Mulailah dari langkah kecil: stop langganan streaming yang jarang ditonton, masak sendiri di rumah, atau cari side hustle yang nggak mengganggu kesehatan mental. Jangan biarkan angka-angka di layar HP mendikte kebahagiaanmu.

Akhir kata, stres finansial itu nyata, tapi bukan berarti nggak bisa dikelola. Hidup ini terlalu berharga kalau cuma dihabiskan buat mikirin utang atau gaya hidup yang nggak ada habisnya. Belajarlah untuk merasa cukup, karena pada akhirnya, kekayaan yang paling hakiki adalah pikiran yang tenang dan tidur yang nyenyak tanpa perlu mikirin gimana caranya bayar tagihan besok pagi. Tetap semangat, ya! Saldo bisa dicari, tapi kesehatan mental kalau udah kena, harganya mahal banget.