Kamis, 5 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Sering Begadang? Ini Dampak Kurang Tidur yang Jarang Disadari

Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM

Background
Sering Begadang? Ini Dampak Kurang Tidur yang Jarang Disadari
Sering Begadang? Ini Dampak Kurang Tidur yang Jarang Disadari ( Istimewa/)

Begadang Terus, Kapan Sehatnya? Mengupas Bahaya Kurang Tidur yang Sering Kita Sepelekan

Pernah nggak sih kamu merasa kalau 24 jam dalam sehari itu nggak pernah cukup? Kerja belum beres, drakor episode terbaru sudah rilis, belum lagi godaan buat scrolling TikTok atau Reels sampai jam dua pagi. Akhirnya, begadang pun jadi gaya hidup. Kita merasa keren karena bisa "productive" sampai larut, atau merasa hebat karena bisa menaklukkan rasa kantuk demi hiburan semata. Padahal, di balik mata panda dan kopi literan yang kita konsumsi, ada tubuh yang diam-diam sedang menjerit minta tolong.

Kurang tidur itu ibarat kita memaksakan HP yang baterainya tinggal 5 persen buat main game berat. Panas, lag, dan lama-lama bisa mati total. Sayangnya, tubuh manusia nggak punya tombol "restart" instan kalau sudah rusak parah. Ironisnya, di zaman sekarang, tidur cukup justru terasa seperti kemewahan yang sulit dikejar, padahal itu adalah kebutuhan paling dasar manusia setelah makan dan bernapas.

Otak yang Lemot dan Emosi yang Senggol Bacok

Efek paling instan kalau kamu kurang tidur adalah otak yang mendadak jadi lemot. Kamu pasti pernah kan, lagi ngobrol sama teman tapi tiba-tiba nge-blank? Atau niatnya mau buka aplikasi m-banking eh malah buka Instagram? Itu adalah cara otak bilang kalau dia butuh istirahat. Saat kita tidur, otak sebenarnya lagi sibuk bersih-bersih racun yang menumpuk selama kita beraktivitas seharian. Kalau waktu tidurnya dipangkas, ya otomatis sampahnya numpuk.

Belum lagi soal emosi. Orang yang kurang tidur itu cenderung punya sumbu pendek. Istilah kerennya "senggol bacok". Hal sepele bisa bikin meledak, atau sebaliknya, hal kecil bisa bikin kita merasa sedih yang luar biasa. Ini karena bagian otak yang mengatur emosi—amigdala—jadi terlalu reaktif kalau nggak ditenangkan lewat tidur yang berkualitas. Jadi, kalau kamu merasa hari-harimu penuh drama dan gampang baper, coba cek deh, jangan-jangan kamu cuma kurang tidur, bukan butuh asupan quotes motivasi.

Skincare Mahal vs. Kebiasaan Begadang

Banyak dari kita yang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah buat beli skincare supaya wajah kelihatan glowing. Tapi di saat yang sama, kita malah begadang tiap malam. Percaya deh, serum semahal apa pun nggak akan bisa menandingi kekuatan "beauty sleep". Saat tidur, tubuh memproduksi hormon pertumbuhan yang membantu regenerasi sel kulit. Kalau kamu kurang tidur, hormon stres atau kortisol bakal naik, dan ini memicu peradangan yang bikin kulit kusam, jerawatan, sampai muncul garis halus sebelum waktunya.



Lucu kan, kita berusaha menutupi kantung mata pakai concealer, padahal cara paling ampuh dan gratis buat menghilangkannya ya cuma tidur. Kurang tidur juga bikin metabolisme berantakan. Pernah merasa lapar banget tengah malam kalau belum tidur? Itu karena hormon ghrelin (hormon lapar) meningkat dan leptin (hormon kenyang) menurun. Ujung-ujungnya, kita malah pesan martabak atau mi instan jam 12 malam. Jangan kaget kalau berat badan naik drastis walaupun sudah merasa "kerja keras".

Ancaman Penyakit yang Nggak Main-main

Kalau kita bicara jangka panjang, kurang tidur itu benar-benar jadi pintu masuk buat penyakit kronis. Jantung, misalnya. Saat kita tidur, tekanan darah biasanya turun. Kalau kita begadang, tekanan darah tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Bayangkan jantungmu dipaksa kerja rodi tanpa henti 24/7. Risiko stroke dan serangan jantung pun otomatis naik kelas.

Selain itu, sistem imun kita bakal jebol. Kamu bakal jadi orang yang paling gampang tertular flu kalau ada teman yang bersin di ujung ruangan. Tubuh butuh waktu istirahat buat memproduksi protein bernama sitokin yang bertugas melawan infeksi. Tanpa sitokin yang cukup, pertahanan tubuh kita itu ibarat benteng yang gerbangnya terbuka lebar buat musuh.

Mitos Produktivitas dalam Hustle Culture

Banyak anak muda sekarang terjebak dalam "hustle culture" yang mengagung-agungkan kerja keras sampai lupa istirahat. Ada semacam kebanggaan tersendiri saat bilang, "Gue cuma tidur 3 jam semalam." Padahal, riset membuktikan kalau produktivitas orang yang kurang tidur itu sebenarnya terjun bebas. Kamu mungkin merasa sudah bekerja banyak, tapi kualitasnya biasanya berantakan. Banyak typo, salah hitung, atau keputusan-keputusan konyol yang diambil cuma karena logika sudah tumpul akibat ngantuk.

Tidur bukan tanda malas. Tidur adalah investasi. Bayangkan kalau kamu tidur cukup 7-8 jam, keesokan harinya kamu bisa fokus 100 persen dan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 4 jam. Bandingkan kalau kamu kurang tidur, pekerjaan yang sama bisa memakan waktu 8 jam karena kamu terus-terusan terdistraksi dan nggak fokus. Mana yang lebih efisien?



Mulai Menghargai Diri Sendiri Lewat Tidur

Jadi, langkah apa yang bisa kita ambil? Nggak perlu drastis langsung tidur jam 9 malam kalau biasanya jam 2 pagi. Coba geser perlahan. Matikan gadget minimal 30 menit sebelum tidur, karena cahaya biru (blue light) dari HP itu bikin otak kita mengira ini masih siang hari. Ciptakan suasana kamar yang nyaman dan dingin kalau bisa.

Kita harus mulai sadar kalau menjaga kesehatan itu nggak cuma soal lari pagi atau makan salad. Memberikan hak tubuh untuk beristirahat total lewat tidur adalah bentuk paling dasar dari self-love. Jangan tunggu sampai jatuh sakit baru sadar kalau tidur itu penting. Ingat, pekerjaan bisa diganti, drakor bisa ditonton nanti, tapi kesehatanmu nggak ada cadangannya. Yuk, mulai malam ini, taruh HP-mu dan tidurlah. Tubuhmu berhak mendapatkan jeda setelah seharian berjuang bareng kamu.