Ratusan Sumur Bor di Bangkalan Mengandung Minyak
Redaksi - Monday, 21 September 2026 | 05:08 AM


salsabilafm.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur masih menunggu rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan terkait pengelolaan 446 sumur bor milik warga yang mengeluarkan cairan minyak.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur mencatat, ada sekitar 446 sumur bor di Kabupaten Bangkalan yang mengeluarkan cairan minyak. Sumur tersebut tersebar di 8 desa dari 4 kecamatan
"Ini bukan minyak murni ya, air mengandung minyak. Kami melakukan pengecekan dengan SKJ Migas di beberapa sumur di Bangkalan," kata Kepala Dinas ESDM Jawa Timur, Aftabuddin Rijaluzzaman, Minggu (20/9/2026).
Pemprov Sidoarjo dan Pemkab Bangkalan diminta oleh SKK Migas yang berada di bawah naungan Kementerian ESDM untuk mengecek semua keberadaan sumur tersebut agar tidak salah menentukan titik koordinat.
"Pemda diminta mengusulkan lengkap dengan koordinatnya, di mana titiknya. Bupati sekaligus mengusulkan siapa yang mau mengelola, nanti dikirim ke kita," ungkapnya.
Pemkab Bangkalan berencana mengusulkan tiga instansi yang akan mengelola sumur bor tersebut. Yakni, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan koperasi.
"Terserah bupati mau rekomendasi ke siapa. Terserah wilayahnya dibagi-bagi daerah. Nanti diusulkan ke provinsi dan kita rekomendasikan ke Menteri ESDM," jelasnya.
Sementara itu, penetapan sumur bor warga tersebut dapat dikelola atau tidak menjadi kewenangan SKK Migas. "Sekarang kita tinggal nunggu bupati mengeluarkan rekomendasi siapa yang melaksanakan," sambungnya.
Sebelumnya, SKK Migas telah mengecek 446 sumur bor di Bangkalan. Pengecekan ini untuk memastikan keamanan dan potensinya. Jika mengandung gas metana, sumur itu harus ditutup karena berisiko memicu ledakan.
"Sehingga rekomendasinya harus ditutup. Penutupannya juga spesifik, enggak boleh ditutup pakai tanah. Harus dicor segala macam itu," bebernya.
Apabila tidak mengandung gas metan dan berpotensi untuk dikelola, maka akan diukur kapasitas, nilai ekonomis, dan pengelola.
"Dilihat nilai ekonomisnya berapa. Kemudian dia sustain atau tidak. Kalau sustain berarti potensinya besar, nah ini perlu disiapkan," terangnya.
Ratusan sumur bor yang mengandung minyak di Bangkalan berada di area permukiman warga. Namun, warga masih dilarang untuk mengelola secara mandiri.
"Misal gali sumur bor ternyata mengandung minyak. Terus masyarakat memisahkan air dan minyak, diendapkan, dipool (dikumpulkan) boleh tapi belum boleh dikelola, dijual, dimurnikan, belum boleh," ujarnya.
Afta mengatakan, sampai sejauh ini belum ada efek signifikan dari sumur bor tersebut. Aktivitas masyarakat belum terganggu. Namun, apabila ada kandungan gas metan, maka masyarakat diminta untuk menjauh dari lokasi.
"Bukan pindah, tapi menjauh. Jangan ada aktivitas yang menimbulkan api, apalagi merokok. Kira-kira kalau punya risiko segera dilaporkan, itu harus ditutup kalau gas metannya tinggi," pungkasnya. (*)
Next News

Ratusan Kayu Gelondongan di Perairan Sumenep Berlabel Kemenhut RI
6 hours ago

Kebakaran di Pamekasan, Uang Rp20 Juta Hasil Tembakau Ikut Hangus
6 hours ago

Warga Pesisir Sumenep Temukan Ratusan Kayu Gelondongan Terdampar di Pantai
6 hours ago

PGMI Gelar Perjusaha, Perkuat Tali Silaturahmi Siwa MI dan MTs Se-Pulau Mandangin
a day ago

Berhasil Comeback, Madura United Kalahkan PSIM 2-1 di Gelora Rato Pamelingan Pamekasan
2 days ago

Terungkap dari CCTV, Pemuda Sumenep Diduga Lakukan Tindak Pidana Kekerasan Seksual
2 days ago

DVI Polda Jatim terima 76 data ante mortem korban KM Virgo
2 days ago

GHE-IK Bintang, UMKM binaan HCML Curi Perhatian di Lokakarya Media 2026
2 days ago

Realisasi Transfer ke Daerah Capai Rp504,3 Triliun hingga Agustus 2026
3 days ago

Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya akibat Karhutla
3 days ago



