Rabu, 8 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Peran tokoh masyarakat

Redaksi - Wednesday, 08 April 2026 | 08:00 AM

Background
Peran tokoh masyarakat
Peran tokoh masyarakat ( Istimewa/)

Bukan Sekadar Pak RT: Menelisik Ujung Tombak Harmoni di Tengah Gempuran Zaman

Bayangkan sebuah skenario klasik di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta atau mungkin di sebuah desa yang tenang di Jawa Tengah. Ada dua tetangga yang sedang bersitegang gara-gara ranting pohon mangga salah satunya menjuntai ke halaman sebelah dan rontokan daunnya dianggap mengotori teras. Awalnya cuma sindir-sindiran di status WhatsApp, lama-lama tensinya naik sampai bawa-bawa urusan harga diri. Di saat situasi sudah hampir meledak dan kedua belah pihak sudah siap pasang urat leher, tiba-tiba muncul sesosok figur yang dengan santainya menyapa, "Lho, ada apa ini? Kok rame-rame, mending kita ngopi dulu di teras saya."

Ajaibnya, amarah yang tadinya membuncah langsung surut. Itulah kekuatan magis dari yang kita sebut sebagai tokoh masyarakat. Mereka bukan polisi, bukan hakim, apalagi jaksa yang punya wewenang hukum formal. Tapi, kata-kata mereka seringkali lebih ampuh daripada surat teguran resmi bermaterai. Di tengah masyarakat kita yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai komunal, peran tokoh masyarakat ini ibarat oli yang menjaga mesin kehidupan sosial tetap berjalan tanpa gesekan berarti.

Lebih dari Sekadar Jabatan di Kartu Nama

Kalau kita bicara soal tokoh masyarakat, pikiran kita seringkali langsung tertuju pada Pak RT, Pak RW, atau Pak Lurah. Padahal, cakupannya jauh lebih luas dan cair dari sekadar jabatan administratif. Tokoh masyarakat bisa siapa saja: seorang pensiunan guru yang dihormati karena kebijaksanaannya, pemuka agama yang ceramahnya selalu adem, atau bahkan seorang pemuda kreatif yang berhasil menggerakkan ekonomi desa lewat media sosial. Intinya, mereka adalah orang-orang yang suaranya "didengar" dan kehadirannya "dirasakan" manfaatnya.

Di era digital yang serba cepat ini, mungkin ada yang berpikir, "Ah, emang masih relevan ya? Kan sekarang apa-apa bisa lapor lewat aplikasi atau viralin saja sekalian." Eits, tunggu dulu. Justru di tengah tsunami informasi dan polarisasi yang sering terjadi di media sosial, kehadiran sosok yang bisa menjadi penengah secara langsung (offline) jadi makin krusial. Tokoh masyarakat adalah kurator emosi massa. Mereka tahu kapan harus menenangkan warga yang termakan hoaks, dan tahu bagaimana cara menegur tanpa membuat yang ditegur merasa kehilangan muka.

Peredam Konflik yang Paling "Selow"

Salah satu peran paling vital dari tokoh masyarakat adalah sebagai mediator konflik. Hidup bertetangga itu seninya luar biasa rumit. Masalah parkir mobil yang menutupi jalan, suara musik yang terlalu kencang di malam hari, sampai urusan batas tanah bisa jadi pemicu perang saudara. Di sinilah tokoh masyarakat bermain peran sebagai "hakim jalanan" yang bijaksana. Mereka tidak mencari siapa yang salah secara hukum, tapi bagaimana harmoni bisa kembali tercipta.



Pendekatannya biasanya nggak kaku. Nggak perlu pakai meja hijau atau palu sidang. Cukup dengan duduk melingkar, makan gorengan, dan ngobrol ngalor-ngidul. Tokoh masyarakat punya kemampuan komunikasi persuasif yang levelnya mungkin setara dengan diplomat ulung. Mereka menggunakan bahasa yang dimengerti warga, menyentuh sisi kemanusiaan, dan seringkali menyelipkan humor agar suasana tidak kaku. Gaya "healing" ala masyarakat akar rumput ini jauh lebih efektif untuk jangka panjang karena tidak menyisakan dendam.

Agen Perubahan yang Nggak Pake Ribet

Selain jadi pemadam kebakaran saat ada konflik, tokoh masyarakat juga sering jadi penggerak atau motor perubahan. Pernah lihat desa yang tiba-tiba jadi bersih dan penuh tanaman karena warganya rajin kerja bakti? Biasanya ada sosok "provokator kebaikan" di baliknya. Tokoh masyarakat ini punya modal sosial berupa kepercayaan (trust). Kalau mereka yang ngajak, warga cenderung lebih mau gerak dibanding kalau cuma baca instruksi dari selebaran pemerintah yang bahasanya formal banget.

Mereka adalah jembatan komunikasi antara kebijakan pemerintah yang kadang sulit dipahami dengan realitas di lapangan. Misalnya, soal program kesehatan atau vaksinasi. Kalau tokoh masyarakat setempat sudah memberikan contoh dan penjelasan dengan bahasa yang membumi, keraguan warga biasanya langsung luntur. Mereka adalah influencer yang sebenarnya, jauh sebelum istilah influencer media sosial itu lahir.

Tantangan di Era Gen-Z dan Digitalisasi

Namun, peran tokoh masyarakat bukannya tanpa tantangan. Saat ini, pola komunikasi anak muda atau Gen-Z cenderung lebih mandiri dan kadang skeptis terhadap otoritas tradisional. Tokoh masyarakat yang masih pakai gaya lama, yang hobi menceramahi atau terlalu mengatur, pelan-pelan mulai kehilangan pengaruhnya. Di sini, ada pergeseran menarik. Tokoh masyarakat masa kini dituntut untuk lebih adaptif, melek teknologi, dan punya visi yang relevan dengan zaman.

Kita butuh tokoh masyarakat yang nggak cuma jago urusan tahlilan atau hajatan, tapi juga ngerti gimana caranya memitigasi berita bohong di grup WhatsApp keluarga. Kita butuh sosok yang bisa merangkul anak muda untuk aktif di karang taruna dengan cara-cara yang nggak ngebosenin. Singkatnya, tokoh masyarakat sekarang harus punya "vibes" yang asik tanpa kehilangan wibawanya.



Mengapa Kita Masih Membutuhkan Mereka?

Pada akhirnya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu butuh pegangan. Di dunia yang makin individualis, di mana orang kadang nggak kenal siapa nama tetangga sebelah rumahnya, tokoh masyarakat adalah perekat yang mencegah kita jadi benar-benar asing satu sama lain. Mereka adalah penjaga gawang moral dan sosial yang memastikan bahwa "tepo seliro" atau rasa tenggang rasa itu tetap ada.

Kehadiran mereka mengingatkan kita bahwa ada masalah-masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan jempol di layar smartphone. Ada kalanya, kita butuh tatap muka, butuh didengarkan, dan butuh bimbingan dari seseorang yang sudah "makan asam garam" kehidupan. Tokoh masyarakat, dengan segala kesederhanaan dan dedikasinya, adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga kewarasan kolektif kita di tengah dunia yang makin absurd ini.

Jadi, kalau besok-besok kamu melihat Pak RT atau sesepuh di lingkunganmu sedang duduk-duduk santai, jangan sungkan untuk menyapa atau sekadar bertanya kabar. Karena mungkin saja, berkat obrolan santai mereka di pos ronda semalam, rencana tawuran antar kampung batal terjadi, atau mungkin tetanggamu yang sedang kesulitan ekonomi akhirnya mendapat bantuan yang ia butuhkan. Itulah peran nyata mereka: tidak selalu terlihat, tapi dampaknya luar biasa terasa.