Rabu, 8 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Budaya kuliner tradisional

Redaksi - Wednesday, 08 April 2026 | 08:00 AM

Background
Budaya kuliner tradisional
Budaya kuliner tradisional ( Istimewa/)

Menolak Punah di Tengah Gempuran Croissant: Mengapa Lidah Kita Tetap Pulang ke Kuliner Tradisional?

Bayangkan sebuah pagi yang malas di hari Minggu. Matahari baru saja mengintip malu-malu di balik jemuran tetangga, dan perut kamu sudah mulai mendemo minta diisi. Pilihannya ada dua: pergi ke kafe estetik di pusat kota demi sepiring Avocado Toast seharga seratus ribu, atau jalan kaki ke ujung gang demi seporsi Bubur Ayam yang abangnya sudah hafal kalau kamu nggak suka seledri. Jujur saja, sesering apa pun kita memotret kopi kalibrasi demi konten Instagram, pada akhirnya lidah kita selalu punya GPS tersembunyi yang mengarah balik ke masakan tradisional.

Indonesia itu, kalau boleh jujur, adalah sebuah "medan perang" rasa yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, kita nggak cuma bicara soal urusan perut kenyang, tapi soal memori yang dibungkus daun pisang. Kuliner tradisional kita bukan sekadar komoditas; ia adalah saksi bisu sejarah, hasil eksperimen nenek moyang yang nggak butuh gelar sarjana teknologi pangan buat menciptakan rasa yang—istilah anak sekarang—nggak ngotak enaknya.

Filosofi di Balik Sambal dan Santan

Pernah terpikir nggak, kenapa nasi padang itu rasanya konsisten enak di mana-mana? Atau kenapa soto tiap daerah punya "ego" masing-masing? Di Lamongan dia pakai koya, di Betawi dia pakai santan, di Makassar dia berubah jadi Coto yang kental akan kacang. Ini bukan cuma soal beda resep, tapi soal identitas. Kuliner tradisional kita itu ibarat bahasa daerah yang dimasak. Dia punya dialek sendiri.

Ada filosofi mendalam di balik cara orang dulu mengolah makanan. Mengapa rendang harus dimasak berjam-jam sampai kering? Ya karena dulu nggak ada kulkas, kawan. Orang harus memutar otak gimana caranya daging tetap awet tapi bumbunya meresap sampai ke serat-serat terdalam. Itulah yang kita sebut sebagai teknologi pangan kearifan lokal. Sekarang, kita menikmatinya sebagai mahakarya dunia. Tapi buat orang Minang zaman dulu, itu adalah cara bertahan hidup yang penuh cinta.

Sayangnya, kadang kita terlalu sibuk memuja makanan luar sampai lupa kalau bumbu genep di Bali atau sambal roa di Manado itu punya kompleksitas rasa yang lebih rumit daripada saus pasta mana pun di Italia. Kita seringkali merasa "naik kelas" kalau makan makanan Barat, padahal nggak ada yang lebih mewah daripada makan nasi hangat pakai ikan asin dan sambal korek yang pedasnya bikin istighfar.



Gempuran Modernitas dan "Aesthetic-isasi" Makanan

Kita hidup di era di mana makanan harus camera-ready sebelum belly-ready. Fenomena ini bikin banyak kuliner tradisional kita mengalami krisis identitas. Lihat saja bagaimana jajanan pasar sekarang mulai masuk mal dengan kemasan cantik tapi rasanya... yah, kadang kehilangan jiwa. Klepon yang biasanya lumer di mulut dengan sensasi ledakan gula merah, sekarang dimodifikasi jadi cake atau minuman kekinian. Kreatif sih, tapi kadang kita rindu sensasi "becek" gula merah yang asli, kan?

Ada semacam ketakutan kalau kuliner tradisional bakal ditinggalkan anak muda karena dianggap kuno atau nggak higienis. Padahal, kalau kita main ke pasar subuh atau warung tenda di pinggir jalan, kita bakal nemu ekosistem yang jauh lebih hidup daripada food court mal yang dingin. Di sana ada obrolan, ada tawar-menawar, dan ada "insting" si penjual yang nggak bakal bisa digantikan oleh algoritma aplikasi ojek online.

Menurut observasi sotoy saya, kuliner tradisional sebenarnya nggak akan pernah mati. Dia cuma sedang bertransformasi. Anak muda sekarang memang suka brunch, tapi mereka juga yang bakal berburu "Hidden Gem" sate klathak di tengah sawah kalau lagi liburan ke Jogja. Kita ini generasi yang haus akan otentisitas di tengah dunia yang makin artifisial.

Kenapa Kita Gagal Move On?

Alasan utama kenapa kuliner tradisional tetap juara adalah faktor emosional. Makanan adalah mesin waktu paling efektif. Satu suapan Sayur Asem bisa langsung menerbangkan ingatanmu ke meja makan rumah nenek saat libur sekolah sepuluh tahun lalu. Bau bawang goreng di atas nasi uduk bisa mengingatkanmu pada perjuangan berangkat kuliah pagi-pagi.

  • Rasa yang Jujur: Kuliner tradisional nggak butuh banyak gimik. Kalau enak ya enak, kalau pedas ya bikin keringat jagung.
  • Harga yang Masuk Akal: Meskipun inflasi menggila, nasi kucing di angkringan masih jadi penyelamat di tanggal tua.
  • Kekayaan Rempah: Lidah kita sudah terbiasa dengan "serangan" rempah yang intens. Makanan luar seringkali terasa hambar atau satu dimensi kalau dibandingin sama masakan lokal.
  • Ikatan Sosial: Makan bakso atau seblak bareng teman-teman itu rasanya beda. Ada aura kebersamaan yang nggak didapat di restoran fine dining yang sunyi.

Tapi, kita juga nggak boleh tutup mata. Tantangan ke depan bagi kuliner tradisional adalah regenerasi. Siapa yang mau meneruskan resep jamu gendong kalau anaknya lebih milih kerja di startup? Siapa yang mau sabar numbuk bumbu manual kalau blender lebih praktis? Ini PR besar kita semua. Bukan cuma soal makan, tapi soal menjaga warisan.



Penutup: Pulang ke Akar

Jadi, nggak perlu merasa bersalah kalau kamu suka latte tapi tetap doyan gorengan pinggir jalan yang plastiknya sampai transparan kena minyak. Itu artinya kamu manusia Indonesia yang paripurna. Kita boleh saja punya selera global, tapi urusan perut, kita tetaplah hamba micin dan rempah-rempah nusantara.

Kuliner tradisional itu seperti rumah. Sejauh apa pun kamu pergi mencoba kuliner mancanegara, suatu saat kamu bakal rindu bau terasi terbakar atau aroma daun kemangi di dalam pepes ikan. Karena pada akhirnya, rasa bukan cuma soal lidah, tapi soal hati yang selalu ingin pulang.

Mari kita terus dukung ibu-ibu penjual pecel, abang-abang penjual nasi goreng tek-tek, dan semua pejuang rasa di luar sana. Tanpa mereka, hidup kita mungkin bakal terasa hambar dan membosankan, seputih roti tawar tanpa selai. Selamat makan, dan jangan lupa kerupuknya!