Kamis, 19 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Mengenal Sisi Manusiawi Orang Tua Saat Kita Mulai Beranjak Dewasa

Redaksi - Tuesday, 17 March 2026 | 12:54 PM

Background
Mengenal Sisi Manusiawi Orang Tua Saat Kita Mulai Beranjak Dewasa
Ilustrasi orang tua (Istimewa /)

Antara Piring Retak dan Potongan Buah: Menyadari Orang Tua Juga Cuma Manusia yang Lagi Trial and Error

Waktu kita masih bocah, orang tua itu ibarat superhero Marvel tanpa kostum ketat. Bapak bisa benerin keran bocor sambil merem, dan Ibu tahu persis di mana letak kaus kaki yang hilang padahal kita sudah nyari sampai ke kolong tempat tidur selama dua jam. Di mata anak-anak, mereka adalah entitas yang serba tahu, pemegang kunci kebenaran mutlak, dan sosok yang nggak mungkin salah. Tapi, begitu kita masuk ke fase dewasa muda, apalagi kalau sudah mulai ngerasain pedihnya telat bayar cicilan atau pusingnya diomelin bos, kacamata kuda itu pelan-pelan copot. Kita mulai sadar satu hal yang agak horor sekaligus melegakan: orang tua kita sebenarnya cuma manusia biasa yang lagi "trial and error" menjalani hidup.

Lucunya, kesadaran ini biasanya nggak datang lewat peristiwa besar kayak di film drama. Seringkali, momen "Aha!" itu muncul di hal-hal sepele. Misalnya, waktu melihat Ibu panik cuma gara-gara salah pencet tombol di WhatsApp, atau waktu Bapak diam-diam ngomel sendiri karena nggak paham cara pakai aplikasi ojek online. Di situ kita mikir, "Eh, ternyata mereka bisa bingung juga ya?"

Gap Generasi dan Drama Grup WhatsApp Keluarga

Ngomongin orang tua zaman sekarang nggak afdol kalau nggak bahas soal kelakuan mereka di media sosial. Ini adalah fenomena unik yang bikin kita seringkali tepok jidat. Kamu pasti pernah kan, dapet kiriman pesan di grup keluarga yang isinya berita hoaks soal kesehatan atau konspirasi elit global yang sumbernya entah dari mana? Isinya biasanya diawali dengan kalimat mentereng: "Mohon disebarkan, demi keselamatan keluarga kita!"

Dulu, mereka yang ngajarin kita biar nggak gampang percaya sama orang asing. Sekarang, keadaannya berbalik. Kita yang harus narik napas panjang, lalu pelan-pelan ngejelasin kalau makan nanas nggak bakal bikin HP meledak. Tapi ya gitu, responsnya seringkali bikin kita makin elus dada. Alih-alih bilang terima kasih, biasanya mereka cuma balas pakai stiker "Alhamdulillah" atau malah kita dituduh "kurang sopan sama orang tua". Di titik ini, kita belajar soal ego. Orang tua punya gengsi setinggi langit untuk mengakui kalau anak yang dulu mereka suapi bubur sekarang jauh lebih paham soal dunia digital.

Tapi kalau kita mau sedikit lebih jernih melihatnya, mereka itu sebenarnya cuma pengin merasa relevan. Dunia berputar terlalu cepat buat mereka. Dari zaman telepon koin ke zaman video call lewat jam tangan itu lompatannya jauh banget. Mereka mencoba bertahan di arus informasi yang luar biasa deras dengan cara mereka sendiri, meski kadang caranya agak bikin kita pengin resign jadi anak sebentar saja.



Bahasa Cinta Versi Potongan Buah

Salah satu hal yang paling khas dari orang tua di Indonesia adalah ketidakmampuan mereka buat bilang "Aku sayang kamu" atau "Maafin Ibu/Bapak ya" secara verbal. Budaya kita kayaknya nggak mendesain orang tua untuk jadi sosok yang ekspresif soal perasaan. Sebagai gantinya, mereka punya bahasa cinta yang unik: potongan buah.

Pernah nggak sih, kamu lagi berantem hebat sama Ibu? Suasana rumah lagi tegang, pintu kamar ditutup rapat, dan kamu lagi nangis sesenggukan atau mungkin lagi emosi level dewa. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Ibu masuk tanpa bilang apa-apa, naruh sepiring mangga atau apel yang sudah dikupas rapi di meja belajar, terus keluar lagi gitu aja. Itu adalah permintaan maaf paling tulus yang bisa mereka sampaikan. Itu adalah cara mereka bilang, "Udah ya marahnya, dimakan dulu ini buahnya."

Bagi mereka, tindakan nyata itu jauh lebih berharga daripada kata-kata manis. Bapak yang rela antar-jemput kita kerja padahal badannya udah pegel-pegel, atau Ibu yang selalu masakin makanan favorit setiap kita pulang kampung, itu adalah cara mereka menunjukkan eksistensi kasih sayang yang nggak ada habisnya. Kita mungkin lebih suka divalidasi lewat kata-kata, tapi buat mereka, memastikan perut kita kenyang adalah bentuk validasi paling tinggi.

Beban Menjadi Generasi Sandwich

Kita nggak bisa menutup mata kalau hubungan dengan orang tua juga punya sisi yang berat, terutama soal "Sandwich Generation". Ini adalah isu yang lagi hangat banget di circle anak muda sekarang. Banyak dari kita yang merasa terhimpit; harus membiayai diri sendiri, mungkin anak-anak kita nanti, sekaligus menyokong ekonomi orang tua yang sudah nggak produktif lagi.

Ada perasaan dilematis yang sering muncul. Di satu sisi, kita sayang banget dan pengin balas budi. Di sisi lain, kita merasa beban finansial ini bikin kita nggak bisa lari ngejar mimpi sendiri. Belum lagi kalau ada ekspektasi orang tua yang pengin kita jadi "investasi" masa tua mereka. Ini adalah topik sensitif yang sering bikin makan malam keluarga jadi canggung.



Namun, seringkali beban ini lahir dari pola asuh masa lalu yang juga penuh tekanan. Orang tua kita mungkin dibesarkan di zaman yang lebih susah, di mana bertahan hidup adalah prioritas utama daripada kesehatan mental. Jadi, mereka nggak sadar kalau pola pikir itu akhirnya membebani anak-anaknya. Memutus rantai ini emang butuh keberanian buat ngobrol dari hati ke hati, meskipun kita tahu risikonya bisa jadi drama keluarga tujuh turunan.

Memaafkan Ketidaksempurnaan Mereka

Seiring bertambahnya usia kita, seharusnya bertambah pula empati kita kepada mereka. Kita mulai sadar bahwa mereka juga pernah muda, punya mimpi yang mungkin dikubur dalam-dalam demi bayar uang sekolah kita, dan punya luka masa kecil yang belum sembuh. Mereka membesarkan kita dengan "manual book" yang mereka susun sendiri, yang tentu saja banyak cacatnya.

Mungkin Bapak terlalu keras mendidik kita karena dia nggak mau kita diremehkan orang lain. Mungkin Ibu terlalu cerewet karena dia nggak mau kita ngerasain kegagalan yang pernah dia alami. Segala kekurangan mereka, mulai dari sikap keras kepala sampai cara mereka mendikte hidup kita, sebenarnya adalah manifestasi dari rasa takut yang mereka sendiri nggak tahu cara ngontrolnya.

Pada akhirnya, berdamai dengan orang tua bukan berarti setuju dengan semua pendapat mereka. Berdamai itu artinya menerima kalau mereka adalah manusia yang punya keterbatasan. Mereka bukan tuhan yang harus selalu benar, dan bukan robot yang nggak punya perasaan. Mereka cuma orang-orang yang mencoba memberikan yang terbaik dengan alat yang seadanya.

Jadi, sebelum nanti kita sendiri yang ada di posisi mereka—menjadi orang tua yang mungkin bakal bingung pakai teknologi masa depan atau nggak sengaja bikin anak kita jengkel—ada baiknya kita lebih banyak sabar. Kalau hari ini Ibu ngirim berita hoaks lagi atau Bapak nanya hal yang sama buat kelima kalinya, tarik napas saja. Ingat kalau dulu mereka sabar nungguin kita belajar jalan sambil jatuh bangun berkali-kali. Lagipula, piring retak di dapur itu masih bisa diganti, tapi waktu buat ngobrol sambil makan potongan buah itu yang nggak bakal bisa diulang.