Jumat, 1 Mei 2026
Salsabila FM
Life Style

Memaknai Hari Kesehatan Internasional, Akses Kesehatan yang Merata

Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 08:00 AM

Background
Memaknai Hari Kesehatan Internasional, Akses Kesehatan yang Merata
Memaknai Hari Kesehatan Internasional, Akses Kesehatan yang Merata ( Istimewa/)

Hari Kesehatan Internasional: Saatnya Berhenti Anggap Sehat Itu Cuma Buat yang Punya Duit

Setiap tanggal 7 April, linimasa media sosial kita biasanya penuh dengan poster ucapan Selamat Hari Kesehatan Internasional. Isinya standar: gambar dokter tersenyum, stetoskop yang melingkar cantik, dan kutipan-kutipan motivasi soal menjaga pola makan. Tapi kalau kita mau jujur sedikit, di balik seremoni tahunan itu, ada sebuah pertanyaan besar yang masih menggantung di langit-langit puskesmas atau ruang tunggu rumah sakit: apakah kesehatan benar-benar sudah jadi hak segala bangsa, atau jangan-jangan masih jadi privilese buat mereka yang saldo tabungannya nggak pernah kritis?

Tema besar yang sering diusung adalah akses kesehatan yang merata. Kedengarannya keren, sangat idealis. Tapi mari kita bedah pelan-pelan pakai kacamata realita orang biasa. Buat kita yang tinggal di kota besar, mungkin akses kesehatan itu cuma sejauh aplikasi di smartphone. Merasa meriang dikit, tinggal sat-set panggil dokter lewat layanan telemedicine, obat diantar sampai depan pagar. Tapi coba geser pandangan kita ke saudara-saudara di pelosok atau mereka yang harus antre dari jam 4 subuh demi mendapatkan nomor antrean BPJS. Di sana, kesehatan bukan cuma soal kebersihan, tapi soal perjuangan logistik.

Masalahnya, ketimpangan ini bukan cuma soal jarak geografis, tapi juga soal struktur kelas sosial. Ada semacam candaan pahit di tengah masyarakat kita: "Orang miskin dilarang sakit." Kalimat ini memang sarkastik, tapi lahir dari kegelisahan nyata. Ketika seseorang sakit, yang dipikirkan bukan cuma rasa sakitnya, tapi berapa hari dia bakal kehilangan pendapatan harian, siapa yang jaga anak, dan apakah obatnya dicover asuransi atau nggak. Memaknai Hari Kesehatan Internasional seharusnya bukan cuma soal promosi gaya hidup sehat, tapi juga menuntut sistem yang nggak bikin orang "boncos" cuma gara-gara ingin sembuh.

Geografi yang Menentukan Umur?

Kalau kita bicara soal akses merata, kita nggak bisa tutup mata soal distribusi tenaga medis. Mayoritas spesialis numpuk di Jawa, terutama di Jakarta. Kalau kamu tinggal di Jakarta dan butuh dokter jantung, pilihannya melimpah dari yang tarifnya standar sampai yang setara harga motor matic. Tapi kalau kamu tinggal di pedalaman Papua atau pelosok Kalimantan, urusannya beda cerita. Menemukan dokter umum saja sudah syukur, apalagi spesialis.

Kesenjangan ini bikin narasi "sehat itu pilihan" jadi terdengar agak kurang peka. Gimana mau milih hidup sehat kalau air bersih saja susah didapat? Gimana mau kontrol rutin kalau perjalanan ke fasilitas kesehatan terdekat harus ditempuh berjam-jam melewati jalanan yang lebih mirip lintasan off-road? Di sinilah peran negara diuji. Akses kesehatan yang merata itu artinya kualitas layanan di Puskesmas ujung pulau harusnya nggak jomplang banget sama rumah sakit swasta di Sudirman.



Kesehatan Mental: Bukan Lagi Sekadar Tren Gen Z

Nah, bicara soal kesehatan di zaman sekarang, kita nggak boleh melupakan aspek mental. Dulu, kalau kita curhat lagi stres atau kena burnout, orang tua mungkin bakal bilang, "Kurang ibadah itu," atau "Kamu cuma kurang piknik." Tapi sekarang, kesadaran soal kesehatan mental sudah jauh lebih baik, terutama di kalangan anak muda. Masalahnya, apakah aksesnya sudah merata?

Biaya konsultasi ke psikolog atau psikiater itu masih tergolong mahal buat banyak orang. Meski BPJS sudah mulai meng-cover, prosedurnya seringkali panjang dan penuh birokrasi yang kadang malah bikin tambah stres. Padahal, kesehatan mental itu fundamental. Orang yang mentalnya tertekan nggak akan bisa produktif, fisiknya juga bakal ikut ambruk. Jadi, kalau kita merayakan Hari Kesehatan Internasional tapi masih menganggap kesehatan mental sebagai "masalah orang kaya" atau "masalah anak manja," artinya kita masih gagal paham soal makna kesehatan yang utuh.

Teknologi: Solusi atau Sekadar Plester?

Munculnya berbagai aplikasi kesehatan memang membawa angin segar. Ini adalah bentuk demokratisasi informasi kesehatan. Kita jadi tahu gejala-gejala penyakit tanpa harus diagnosa mandiri lewat Google yang ujung-ujungnya selalu dibilang kanker (kita semua pernah di posisi ini, kan?). Tapi, teknologi punya keterbatasan. Aplikasi nggak bisa melakukan operasi bedah, nggak bisa memberikan pelukan empati dari perawat, dan nggak bisa menggantikan fasilitas fisik yang memadai.

Teknologi harusnya jadi jembatan, bukan pengganti kewajiban pemerintah untuk membangun infrastruktur fisik. Jangan sampai digitalisasi kesehatan malah jadi alasan untuk abai pada pembangunan rumah sakit di daerah terpencil. Kita butuh keduanya: kemudahan akses digital dan ketangguhan fasilitas fisik.

Harapan dan Realitas: Sehat yang Berkeadilan

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat jelata selain cuma bisa sambat? Ya, setidaknya kita harus terus menyuarakan bahwa kesehatan adalah hak, bukan komoditas. Kita perlu lebih kritis melihat kebijakan publik. Hari Kesehatan Internasional harusnya jadi momentum buat kita untuk saling mengingatkan: bahwa sehatmu tidak boleh mengandalkan keberuntungan atau isi dompetmu saja.



Akses kesehatan yang merata itu bukan cuma soal jumlah gedung rumah sakit yang banyak, tapi soal sistem yang memanusiakan manusia. Sistem yang nggak bikin pasien merasa jadi beban, sistem yang menghargai tenaga kesehatan dengan upah layak, dan sistem yang memastikan bahwa anak di pelosok punya kesempatan hidup yang sama besarnya dengan anak di kota besar.

Jadi, di momen Hari Kesehatan Internasional ini, mari kita doakan (dan tuntut) agar layanan kesehatan kita semakin "sat-set" dan nggak pandang bulu. Karena pada akhirnya, virus dan penyakit nggak pernah nanya apa jabatanmu atau berapa saldo ATM-mu sebelum mereka menyerang. Sehat itu harusnya murah, mudah, dan milik semua orang tanpa terkecuali. Titik.