Jumat, 1 Mei 2026
Salsabila FM
Life Style

Memaknai Hari Buku Anak Sedunia, Pentingnya Literasi untuk Generasi Muda

Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 08:00 AM

Background
Memaknai Hari Buku Anak Sedunia, Pentingnya Literasi untuk Generasi Muda
Memaknai Hari Buku Anak Sedunia, Pentingnya Literasi untuk Generasi Muda ( Istimewa/)

Menghidupkan Kembali Sihir di Tangan Si Kecil: Refleksi Hari Buku Anak Sedunia

Coba ingat-ingat sebentar, kapan terakhir kali kamu melihat anak kecil—entah itu adik, keponakan, atau anak tetangga—beneran khusyuk memegang buku cerita fisik, bukan sibuk geser-geser layar gadget sambil nonton video unboxing mainan? Mungkin pemandangan itu makin langka ya, seolah-olah buku sudah kalah telak sama algoritma YouTube Kids atau TikTok. Padahal, setiap tanggal 2 April, dunia merayakan Hari Buku Anak Sedunia. Sebuah momen yang sebenarnya pengen teriak keras-keras ke kita semua: "Woi, literasi anak itu darurat, lho!"

Pemilihan tanggal 2 April ini nggak asal pilih tanggal cantik ala-ala diskon marketplace. Tanggal ini adalah hari ulang tahun Hans Christian Andersen, bapak dongeng sedunia asal Denmark yang melahirkan cerita legendaris macam The Little Mermaid (yang versi aslinya jauh lebih sedih daripada versi Disney) atau The Ugly Duckling. Tapi, memaknai hari ini bukan berarti kita harus jadi puitis atau mendadak jadi pendongeng handal. Lebih dari itu, ini soal gimana kita menyelamatkan imajinasi generasi masa depan yang pelan-pelan mulai tumpul karena terlalu sering disuapi konten instan.

Mari kita jujur-jujuran. Literasi itu sering banget dianggap topik yang berat, membosankan, dan "akademis banget". Padahal, literasi buat anak-anak itu simpelnya adalah tentang cara mereka memahami dunia. Kalau dari kecil mereka cuma terbiasa sama visual cepat yang durasinya cuma 15 detik, jangan kaget kalau pas gede mereka jadi orang yang gampang kemakan hoax atau cuma baca judul berita langsung emosi di kolom komentar. Membaca buku melatih otot fokus yang nggak didapatkan dari scrolling media sosial. Di dalam buku, ada jeda. Ada ruang untuk membayangkan bentuk naga, warna hutan, atau ekspresi sedih seorang tokoh tanpa harus disuapi visual yang sudah jadi.

Masalahnya, kita sering terjebak pada mindset kalau baca buku itu harus buku pelajaran atau buku yang "pintar". Helo, anak-anak itu butuh kesenangan! Kita nggak bisa maksa anak suka baca kalau yang kita sodorin cuma ensiklopedia tebal yang isinya tulisan semua. Kenalkan mereka pada komik yang gambarnya lucu, buku bergambar (picture books) yang warnanya estetik, atau novel petualangan yang bikin mereka merasa jadi detektif. Literasi itu pintu masuk, dan hiburan adalah kuncinya. Kalau mereka sudah merasa bahwa buku itu seru, mereka bakal nyari sendiri kok tanpa perlu disuruh-suruh sampai tenggorokan kering.

Ada satu hal yang sering kita lupakan: buku adalah alat simulasi empati paling murah. Lewat buku, seorang anak di Jakarta bisa merasakan gimana rasanya jadi anak di kutub utara yang kedinginan, atau jadi seekor kucing yang tersesat di pasar. Pengalaman "masuk ke sepatu orang lain" ini yang bikin anak-anak tumbuh jadi pribadi yang punya perasaan, nggak cuma pinter secara logika tapi nol besar soal kemanusiaan. Di tengah dunia yang makin individualis dan penuh hujatan di internet, kemampuan untuk berempati adalah survival skill yang mahal harganya.



Terus, gimana caranya biar literasi ini nggak cuma jadi wacana atau seremonial tiap setahun sekali? Ya mulai dari lingkungan terdekat. Jangan jadi orang dewasa yang nyuruh anak baca buku tapi sendirinya malah asyik main Mobile Legends di depan mereka. Anak itu peniru ulung. Kalau mereka lihat orang tuanya atau orang dewasa di sekitarnya pegang buku dengan wajah menikmati, mereka bakal penasaran. "Itu benda apa sih yang bikin Kakak/Mama senyum-senyum sendiri?". Rasa penasaran adalah awal dari segalanya.

Selain itu, jangan pelit buat beli buku. Kita sering nggak sayang ngeluarin duit ratusan ribu buat beli kopi kekinian atau skin game, tapi pas lihat harga buku anak yang cuma 50 ribuan, kita mikirnya lama banget. Padahal, investasi di buku itu awetnya permanen di kepala. Buku nggak akan kena nerf atau maintenance server. Dia bakal tetap di situ, siap dibaca ulang kapan saja saat si anak butuh pelarian dari kebosanan dunia nyata.

Kita juga perlu mendukung keberadaan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat di sekitar kita. Di beberapa daerah, akses ke buku masih susah banget, lho. Ada anak-anak yang matanya berbinar cuma karena dapet kiriman buku bekas. Inilah pentingnya kita bergerak bareng. Literasi bukan cuma tugas guru di sekolah atau pemerintah dengan program-program kaku mereka. Literasi adalah gerakan budaya. Gerakan buat bikin membaca itu jadi kegiatan yang "cool" lagi, bukan kegiatan "cupu" yang cuma dilakukan sama anak-anak berkacamata tebal di pojok kelas.

Memaknai Hari Buku Anak Sedunia di era digital memang penuh tantangan. Kita bersaing dengan algoritma yang dirancang buat bikin kita kecanduan layar. Tapi ingat, secanggih apa pun teknologi, sensasi membalik halaman buku, bau kertas yang khas, dan kepuasan menamatkan sebuah cerita itu nggak akan pernah bisa digantikan oleh piksel di layar HP. Mari kita kasih kesempatan buat generasi muda kita untuk punya "dunia lain" di dalam kepala mereka. Karena anak yang suka membaca hari ini, adalah pemimpin yang bijak dan punya imajinasi di masa depan. Jangan biarkan sihir itu hilang cuma gara-gara kita malas ngenalin mereka pada buku sejak dini.

Jadi, mumpung masih suasana Hari Buku Anak, coba deh mampir ke toko buku atau perpustakaan terdekat. Cari satu buku yang kira-kira seru, kasih ke ponakan atau adikmu, lalu ajak mereka diskusi soal isinya. Siapa tahu, lewat langkah kecil itu, kamu baru saja membuka pintu petualangan yang bakal mereka ingat seumur hidup. Selamat Hari Buku Anak Sedunia! Mari kita buat literasi jadi gaya hidup, bukan sekadar beban kurikulum.