Kamis, 30 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Hentikan Kebiasaan Scroll Medsos Sampai Subuh dengan Cara Ini

Redaksi - Tuesday, 28 April 2026 | 07:40 AM

Background
Hentikan Kebiasaan Scroll Medsos Sampai Subuh dengan Cara Ini
Hentikan Kebiasaan Scroll Medsos Sampai Subuh dengan Cara Ini (Istimewa/)

Seni Sarapan: Antara Perjuangan Melawan Kasur dan Huru-Hara Bubur Ayam

Mari kita jujur satu hal: bangun pagi itu berat. Apalagi kalau semalam habis marathon series atau scroll media sosial sampai jam dua subuh demi melihat drama orang asing yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup kita. Ketika alarm berbunyi, pertempuran batin paling epik di dunia pun dimulai. Pilihannya cuma dua: lanjut tidur lima menit lagi tapi berisiko telat ke kantor, atau bangun dengan nyawa yang belum terkumpul penuh demi menyantap sesuatu yang namanya sarapan.

Bagi sebagian orang, sarapan adalah ritual sakral. Ada yang merasa kalau belum kena nasi, itu namanya belum makan. Tapi bagi sebagian yang lain, sarapan cukup dengan segelas kopi hitam dan sebatang rokok—atau kalau mau agak sehat sedikit, ya segelas susu kedelai sambil lari mengejar busway. Di Indonesia, urusan sarapan ini bukan cuma soal mengisi perut yang keroncongan, tapi sudah jadi identitas budaya yang penuh dengan perdebatan filosofis yang tak kunjung usai.

Tim Diaduk vs. Tim Tidak Diaduk: Perang Saudara di Meja Makan

Kita tidak bisa membicarakan sarapan tanpa menyenggol bubur ayam. Menu sejuta umat ini adalah episentrum dari segala keributan pagi hari. Perdebatan antara tim bubur diaduk dan tim bubur tidak diaduk itu levelnya sudah hampir menyamai debat politik di masa kampanye. Masif dan emosional.

Anak-anak "Tim Diaduk" biasanya punya alasan praktis: agar bumbu, kecap, sambal, dan kerupuk menyatu dalam harmoni rasa yang konsisten di setiap suapan. Katanya sih, tampilannya memang seperti "kekacauan visual", tapi rasanya merata. Sementara itu, "Tim Tidak Diaduk" adalah mereka yang menjunjung tinggi estetika. Mereka ingin melihat topping cakwe, kacang, dan seledri tetap tertata rapi di atas bubur yang putih bersih. Bagi mereka, mengaduk bubur adalah sebuah penistaan terhadap seni penyajian makanan.

Tapi ya sudahlah, di luar perdebatan itu, tukang bubur ayam adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka sudah standby sejak buta (sebelum matahari terbit) untuk memastikan kita yang baru bangun dengan wajah bantal ini tidak kelaparan. Tanpa mereka, mungkin tingkat produktivitas bangsa ini bakal terjun bebas karena warganya lemas kurang asupan karbohidrat.



Nasi Uduk, Gorengan, dan Karbohidrat Berlebihan

Kalau bubur ayam dirasa terlalu "ringan", ada opsi lain yang lebih bertenaga: Nasi Uduk. Ini adalah "comfort food" yang sesungguhnya. Nasi yang gurih karena santan, ditemani bihun goreng, irisan telur dadar, tempe orek, dan tentu saja, gorengan sebagai pelengkap wajib. Makan nasi uduk di pagi hari itu seperti memberikan pelukan hangat ke lambung, tapi juga memberikan tantangan berat ke mata.

Masalah utama dari sarapan berat ala Indonesia seperti nasi uduk atau nasi kuning adalah efek sampingnya: "food coma". Setelah makan dengan porsi kuli, sekitar jam sepuluh pagi saat meeting sedang panas-panasnya, kantuk luar biasa biasanya menyerang. Ini adalah dilema kaum pekerja. Ingin bertenaga tapi malah berakhir ingin tidur di bawah meja kantor. Di sinilah gorengan mengambil peran. Bakwan atau mendoan yang masih panas itu bukan sekadar makanan, tapi "mood booster" yang bikin semangat hidup sedikit meningkat, meski kadar kolesterol ikut melambai-lambai.

Revolusi Kopi dan Kaum "Enggak Bisa Makan Pagi"

Lalu, bagaimana dengan kaum urban yang jadwalnya super padat? Mereka yang merasa makan nasi di pagi hari itu terlalu berat untuk sistem pencernaan mereka yang sensitif? Masuklah tren "Breakfast Culture" ala Barat yang kemudian bercampur dengan budaya kopi lokal.

Bagi banyak anak muda sekarang, sarapan itu ya kopi. Entah itu kopi susu kekinian yang manisnya minta ampun, atau long black pahit yang fungsinya memang cuma buat menampar kesadaran agar tidak ngantuk saat melihat spreadsheet Excel. Mereka ini biasanya penganut paham "intermittent fasting" secara tidak sengaja. Perutnya baru diisi makanan padat saat jam makan siang tiba.

Ada juga yang memilih jalur estetik: sereal, oat, atau roti gandum dengan selai kacang. Gaya hidup ini biasanya dibarengi dengan unggahan foto di Instagram Story dengan caption "Morning vibes" atau "Starting my day right". Ya tidak apa-apa juga, setiap orang punya cara masing-masing untuk merasa punya kontrol atas hidupnya yang mungkin sedang berantakan, meski itu cuma lewat pemilihan menu sarapan yang fotogenik.



Kenapa Sarapan Itu Penting (Tapi Jangan Terlalu Dipaksakan)

Secara medis, kita sering mendengar kalau sarapan itu adalah waktu makan terpenting dalam sehari. Logikanya sederhana: mesin butuh bensin setelah berhenti semalaman. Tanpa sarapan, otak kita cenderung lebih lambat bekerja, konsentrasi buyar, dan bawaannya pengen marah-marah (alias hanger—hungry and angry).

Tapi, observasi lapangan menunjukkan bahwa memaksakan sarapan bagi orang yang memang tidak terbiasa juga bukan ide bagus. Ada orang yang kalau makan pagi malah perutnya mules. Ada yang merasa mual kalau harus mengunyah sesuatu sebelum jam sepuluh. Kuncinya sebenarnya adalah mendengarkan tubuh sendiri. Kalau badan minta diisi, ya silakan cari tukang bubur terdekat. Kalau memang belum nafsu makan, ya air putih dulu juga boleh.

Sarapan sebenarnya bukan cuma soal nutrisi. Ini soal jeda sebelum kita benar-benar "terjun" ke dalam kerasnya dunia. Waktu sepuluh atau lima belas menit untuk menikmati sepiring makanan atau segelas minuman hangat adalah bentuk self-care paling dasar. Ini adalah waktu di mana kita bisa sedikit melamun, merencanakan hari, atau sekadar scrolling berita receh sebelum dihajar dengan deadline dan tekanan bos.

Kesimpulan: Syukuri Setiap Suapan

Apapun menu pilihanmu—entah itu bubur ayam diaduk, nasi uduk porsi dobel, roti gandum hambar, atau sekadar kopi hitam pekat—nikmatilah. Sarapan adalah simbol harapan bahwa kita masih punya hari baru untuk dijalani. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin nggak jelas ini, bisa duduk tenang sambil makan tanpa gangguan itu sudah merupakan kemewahan tersendiri.

Jadi, besok pagi jangan langsung buru-buru buka laptop atau cek email. Beri ruang untuk perutmu sedikit dimanjakan. Dan ingat, apapun pilihan sarapanmu, jangan pernah menghakimi cara orang lain makan bubur. Karena di meja makan, yang paling penting bukan tampilannya, tapi rasa kenyang yang bikin hati jadi tenang. Selamat sarapan, kawan-kawan!