Sabtu, 14 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Fenomena Online Dating: Dari Match, First Date, hingga Ghosting

Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM

Background
Fenomena Online Dating: Dari Match, First Date, hingga Ghosting
Fenomena Online Dating: Dari Match, First Date, hingga Ghosting ( Istimewa/)

Antara Swiping Kanan dan Ghosting Berjamaah: Seni Bertahan Hidup di Hutan Online Dating

Bayangkan skenario ini: jam 11 malam, lampu kamar sudah mati, tapi layar HP kamu masih menyala terang benderang. Jempol kanan kamu bergerak lincah, geser kiri, geser kiri, lalu berhenti sebentar, senyum-senyum sendiri melihat foto profil seseorang yang kelihatan "aesthetic" dengan segelas kopi di tangan, lalu—set!—geser kanan. Selamat, kamu baru saja resmi menjadi bagian dari sekte besar pencari cinta (atau sekadar validasi) di dunia online dating.

Dulu, orang tua kita mungkin bertemu di perpustakaan kampus atau dijodohkan lewat kenalan tante dari sepupu jauh. Sekarang? Jodoh itu ada di ujung jempol. Kita hidup di era di mana algoritma lebih tahu kriteria pasangan ideal kita dibandingkan sahabat sendiri. Tapi, apakah kemudahan ini bikin urusan asmara jadi lebih simpel? Oh, tentu saja tidak, kawan. Justru di sinilah drama sesungguhnya dimulai.

Dari "Bio" yang Kayak CV Sampai Kurasi Foto Paling Oke

Masuk ke dunia online dating itu ibarat jualan diri di pasar digital. Kamu harus punya "packaging" yang menarik. Maka dimulailah ritual memilih foto. Foto pertama harus yang paling ganteng atau cantik, tapi jangan kelihatan terlalu berusaha. Foto kedua biasanya lagi traveling, biar kelihatan punya kehidupan. Foto ketiga kalau bisa lagi sama kucing atau anjing, biar dibilang penyayang. Dan jangan lupa, bio harus ditulis se-quirky mungkin. Pakai kutipan lagu indie atau cukup tulis tinggi badan biar nggak ditanya-tanya lagi.

Masalahnya, kadang ekspektasi yang dibangun di profil sering kali nggak sebanding dengan realitas pas ketemu langsung. Pernah dengar istilah "zonk"? Itu lho, momen ketika kamu sudah telanjur dandan rapi, pakai parfum paling mahal, eh pas ketemu orangnya ternyata beda jauh sama fotonya. Atau yang lebih parah, fotonya emang sama, tapi obrolannya sepi banget kayak kuburan di malam Jumat. Di sinilah kesabaran kita sebagai pejuang cinta diuji sampai ke akar-akarnya.

Dilema "Choice Overload" dan Penyakit Ghosting

Ada satu fenomena menarik dalam budaya online dating: Paradox of Choice. Karena pilihannya terlalu banyak, kita jadi gampang merasa "ah, mungkin yang selanjutnya bakal lebih oke". Kita jadi susah puas. Baru ngobrol tiga hari sama si A yang baik banget, eh tiba-tiba dapet match sama si B yang lebih nyambung soal hobi. Akhirnya si A ditinggalin gitu aja tanpa kabar. Selamat, kamu baru saja melakukan ghosting.



Ghosting ini sudah jadi semacam budaya nasional di aplikasi kencan. Datang kayak pahlawan, pergi kayak ninja. Tiba-tiba menghilang di telan bumi tanpa alasan yang jelas. Rasanya emang nyesek, apalagi kalau kita sudah mulai naruh harapan. Tapi ya mau gimana lagi? Di ekosistem ini, perasaan sering kali dianggap sebagai komoditas yang bisa dibuang kapan saja kalau ada yang lebih menarik muncul di layar.

Kamus Istilah yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Anak muda zaman sekarang juga punya sederet istilah buat menggambarkan hubungan mereka hasil dari aplikasi ini. Ada yang namanya "situationship"—hubungan yang lebih dari teman tapi nggak mau disebut pacaran. Ada lagi "breadcrumbing", alias cuma kasih harapan palsu lewat chat manis tapi nggak pernah ada aksi nyata. Belum lagi urusan "red flag" dan "green flag".

Sekarang, setiap orang punya daftar red flag-nya masing-masing. "Duh, dia dengerin lagu ini, red flag!" atau "Yah, dia kalau bales chat lama banget, fix red flag." Kita jadi sangat menghakimi dan cepat mengambil kesimpulan. Padahal, hubungan manusia itu kompleks dan nggak bisa cuma dinilai dari satu atau dua variabel di layar HP. Kita jadi lupa kalau di balik profil itu ada manusia beneran yang punya perasaan, bukan cuma deretan pixel.

First Date: Ujian Kelayakan dan Kepatutan

Kalau akhirnya berhasil melewati fase chat dan lanjut ke first date, rasanya kayak mau ujian skripsi. Tempat kencan biasanya dipilih yang paling aman: coffee shop. Kenapa? Biar kalau nggak nyambung, bisa buru-buru pulang dengan alasan "ada urusan mendadak" setelah kopi habis. Tapi kalau nyambung, obrolan bisa lanjut sampai coffee shop-nya tutup.

Lucunya, sekarang first date juga sering dijadikan ajang buat bikin konten. Foto makanan, foto sepatu berdua, terus diunggah ke Instagram Story dengan lagu galau atau lagu romantis yang lagi viral. Padahal di meja makan, keduanya malah sibuk main HP masing-masing. Ironis, kan? Kita mencari koneksi di dunia nyata tapi tetap nggak bisa lepas dari dunia digital yang mempertemukan kita.



Menemukan Makna di Balik Swiping

Meski banyak pahitnya, nggak sedikit juga kok yang berhasil menemukan jodoh betulan, bahkan sampai ke jenjang pernikahan lewat aplikasi kencan. Kuncinya sebenarnya cuma satu: kejujuran. Di tengah hutan kepalsuan online dating, kejujuran itu barang langka yang harganya mahal banget.

Online dating itu cuma alat, bukan penentu kebahagiaan. Mau lewat Bumble, Tinder, atau dikenalin temen kantor pun, yang namanya membangun hubungan itu tetep butuh usaha, kompromi, dan komunikasi yang sehat. Jangan sampai kita jadi capek sendiri karena terlalu terobsesi mencari "yang sempurna" di layar, sampai-sampai kita melewatkan "yang tulus" yang mungkin ada di depan mata.

Jadi, buat kamu yang malam ini masih sibuk swiping, jangan lupa buat istirahat. Kasihan jempolnya. Ingat, jodoh mungkin emang di tangan Tuhan, tapi kalau kamu nggak usaha (dan nggak upgrade bio), ya mungkin jodohnya lagi nyangkut di filter jarak 50 kilometer orang lain. Tetap semangat, para pejuang algoritma!