Tegas ! Nahdliyin Madura Deklarasi Siap Hadapi Penghina NU

Tegas ! Nahdliyin Madura Deklari Siap Hadapi Penghina NU
Firmansyah Ali (baju crime), Koordinator Nabrak saat memimpin pertemuan perwakilan tokoh dan advokat NU Madura di Pondok Pesantren Assirojiyyah Sampang. (Foto : Fahromi N)

Nahdliyin Madura Bergerak (NABRAK) yang terafiliasi dari para tokoh Ulama dan Advokat Nahdlatul Ulama (NU) se-Madura bersatu mendeklarasikan perlawanan terhadap semua oknum penista NU, Senin (8/11/2021) siang.

“Kami Nahdliyin Madura Bergerak, pada hari ini menyatakan tekad akan melawan segala bentuk penghinaan, penistaan, dan fitnah terhadap NU, terutama persekusi terhadap ulama NU,” kata Koordinator Nabrak, Firmansyah Ali saat memimpin deklarasi.

Pihaknya tidak akan segan melakukan langkah-langkah hukum dalam membela marwah NU dan peradaban Madura, serta mendesak aparatur hukum untuk mempercepat proses hukum dan bertindak tegas pada kasus-kasus yang mengarah pada NU.

Berbekal dukungan dan restu penggerak NU Madura, seperti KH. Faidhal Mubarok Sampang, KH. Qusyairi Zaini Sumenep, dan beberapa tokoh lain di empat Kabupaten, gerakan ini dilakukan sebagai respon meningkatnya eskalasi penghinaan NU dan ulama NU.

“Kami Nahdliyin Madura Bergerak, datang dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, karena selama ini terjadi peningkatan penghinaan terhadap marwah NU, baik secara institusi maupun personal yaitu kiai dan ulama NU,” jelasnya.

“Hal ini dibuktikan dengan adanya hate speech yang dilakukan oleh akun Facebook Izzul tahun 2019 di Pamekasan, tahun ini Subaidi Masajid di Sampang yang mengatakan NU Mutanajis Mugholadoh, kemudian persekusi terhadap ulama dan kiai di Sumenep, dan lainnya,” tutupnya.

Koordinator Daerah (Korda) NABRAK Sampang Faisol Ramdhoni menambahkan, gerakan spontanitas dan masif warga NU se-Madura dipicu oleh tidak jelasnya penanganan kasus-kasus penghinaan yang selama ini menimpa ulama NU di Madura.

“Terkadang penanganan kasus pencemaran nama baik NU kurang cepat dan tegas, sehingga pihak yang membenci NU merasa tidak ada resiko hukum serta semakin merajalela dalam menghina dan memfitnah,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Lakpesdam PCNU Sampang itu.

“Kami berharap gerakan ini lebih masif serta mampu menjawab dan melawan semua tindakan yang menodai marwah NU khususnya di Madura. Sehingga peradaban Madura kembali seperti semula yang berprilaku santun dan tata krama,” imbuhnya. (Romi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.