Pekan Muharam Fatayat, Ketua Tanfidziyah PCNU: NU Adalah Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah

Pekan Muharam Fatayat, Ketua Tanfidziyah PCNU: NU Adalah Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah
Ketua Tanfidziyah PCNU Sampang, KH. Moh. Itqan Bushiri saat menyantuni anak yatim pada Pekan Muharam Fatayat NU.
(Foto: Fahromi Nashihuddin)

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang, KH. Moh. Itqan Bushiri mengingatkan kepada semua warga nahdliyin bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi atau Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah.

Hal itu disampaikan saat membuka acara Pekan Muharam yang diselenggarakan PC Fatayat NU Sampang di kantor PCNU, Jalan Diponegoro, Randar Kumalas, Banyuanyar, Sampang, Minggu (28/8/2022) pagi.

KH. Moh. Itqan Bushiri menerangkan NU sebagai Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah harus mengutamakan kegiatan-kegiatan keagamaan, karena NU mengawal negara Republik Indonesia (RI) berikut para jamaahnya dengan urusan keagamaan.

Berkaitan dengan Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah, ia mengapresiasi Fatayat NU Sampang yang telah menerapkan hal tersebut dengan mengisi Pekan Muharam Fatayat dengan mengadakan lomba-lomba yang berbasis keagaaman.

“Dalam Pekan Muharam ini, panitia sudah menyampaikan bahwa ada lomba cerdas cermat Aswaja, lomba menyanyikan mars dan hymne Fatayat, dan lomba MC yang diikuti oleh semua PAC se- Kabupaten Sampang,” tuturnya.

Ra Itqan mengucapkan hamdalah atas terselenggaranya Pekan Muharam oleh PC Fatayat NU Sampang. Lantas, ia menggaris bawahi untuk semua kader Fatayat dan semua warga nahdliyin supaya terus berkhidmat bersama mengantarkan NU pada usia ke-100 tahun.

Menurutnya, perjalanan menuju satu abad NU tidaklah mudah, pertama idealisme organisasi harus tetap dijaga dan dirawat baik-baik seiring usia NU sudah 100 tahun.

“Idealnya organisasi PAC harus memiliki ranting dan anak ranting. Untuk Fatayat rantingnya perlu dipersiapkan dengan akreditasinya, kemampuannya, keorganisasiannya, dan seterusnya. Itu yang terpenting,” ucapnya.

Kemudian, ia kembali mengingatkan bahwa berdirinya NU adalah organisasi Diniyah Ijtimaiyah. “Kita menjalankan dalam rangka Addiniyah Ijtimaiyah, yang kita dahulukan keagamaan baru kemudian sosial. Artinya kemampuan kita diukur dari kegiatan keagamaannya,” tutupnya. (Romi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.