Kisah Pilu Nenek Bi’ah, Hidup Sebatang Kara di Gubuk Tua Tanpa Listrik

Spread the love

salsabilafm.com – Seorang nenek renta terlihat duduk sendirian di gubuk tua beralas tanah miliknya yang mulai rapuh. Tatapan matanya terlihat kosong memandang ke depan. Nenek berusia 75 tahun itu bernama Bi’ah.

Bi’ah hidup sebatang kara di gubuknya di Dusun Bangeran, Desa Barung Gagah, Kecamatan Tambelangan, Sampang. Tanpa sanak saudara, ia tinggal sendirian dengan segala keterbatasan.

Gubuk yang menjadi tempat berteduhnya hanya diterangi satu lampu pijar. Tak ada perabotan satupun di dapur miliknya. Dinding-dinding kayu gubuknya pun mulai rapuh. Setiap hari, nenek renta ini mengandalkan bantuan tetangga dan upah dari bekerja di sawah milik orang lain untuk menyambung hidup.

“Saya tidak punya listrik, numpang satu lampu saja untuk tempat sholat. Biasanya dapat uang buat beli lauk dari tetangga yang pulang dari perantauan,” tutur Bi’ah saat ditemui salsabilafm.com di rumahnya, Sabtu (23/11/2025).

Meski tubuhnya renta dan kulit tangannya kasar karena bekerja keras, Bi’ah tak pernah menyerah. Semangatnya untuk bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sangat kuat.

“Mau bagaimana lagi, saya tidak punya anak, sudah puluhan tahun ditinggal suami karena meninggal,” cerita Bi’ah dengan suara lirih.

Seperti warga pada umumnya, Bi’ah juga menginginkan tempat tinggal yang lebih layak. Ia ingin merasa aman saat beribadah, tidur, dan beristirahat.

“Karena kadang kalau hujan deras dan angin kencang, rumah saya yang dari anyaman bambu goyang seperti mau roboh,” ucap dia.

Data Tak Terbaca Sistem

Erwin Erwil Syahrial, Kabid Jaminan dan Penaggung Jawab Bantuan Sosial Dinsos PPA Kabupaten Sampang, mengatakan, Nenek Bi’ah sebenarnya telah terdata dalam Kementrian Sosial dengan kategori Desil I atau sangat miskin.

“Seharusnya tercover oleh beberapa bantuan sosial, karean kategori Desil I atau sangat miskin,” ujarnya saat ditemui salsabilafm.com, di kantornya, Senin (24/11/2025).

Dengan kondisi Bi’ah yang memprihatinkan, Erwin menduga ada masalah saat proses penyaluran atau Top Up ke Bank BRI.

“Kami menduga sistem Kabisad Bank tidak membaca nama nenek ini. Makanya KTP dan KKnya harus diperbarui,” ujarnya. (Syad)


Spread the love

Related Articles

Latest Articles